28 October 2008


Sejenak kau ajak aku dalam sepi
meski tak harus diam dan berhenti membaca
karena masih banyak ayatayat yang harus dikumandangkan, pada saatnya nanti

Perjalanan harus terus dilanjutkan…

Advertisements

DI RANAH SEPI

28 October 2008


Seperti yang kau katakan
Sepi tak terpahamkan oleh kata-kata
Serupa perpisahan yang juga tak berujung
Pada sekian deret waktu tak bertuan
Karena seperti yang aku katakan
Sepi adalah dalam kesendirian
Dan “kesendirian hanya dapat kau rasakan
jika ada yang lain dalam dirimu“*

Tidak. Dan bukan itu.
Bukan sendiri yang membawa angin-angin malam
Bukan sendiri yang berbalas pada sajak-sajak kehidupan
Bukan sendiri yang berkutat dengan kata-kata tak berbatas
Selama rindu masih menyapa, menyela di kanvas sejarah, tak berlabuh
Berlayar dan terus mengarung
Melintas di samudera tak bertepi

Warna-warna kesepian itu tak bertaut pada perpisahan
Sebab sawah dan gunung masih setia bersenandung
Menyanyikan lagu, berirama dalam hidup

Di penat kota metropolitan, pusat peradaban dan perbudakan
Aku belajar menjadi air, bergemiricik
Dan mengalir, membasahi tanah-tanah bundaku
Lalu menguap dan menyentuh awan
Untuk kembali membumi dalam basah dan sejuk
Agar sepi merajut sulaman jiwa
Menembus batas-batas yang berdiri angkuh, berkacak pinggang
Seolah membangun istana kesendirian
Sedang sendiri tak pernah ada

Jakarta, Maret 2008
*Sepenggal dialog dalam naskah “Berjalan di Persinggahan, (mazfans:NuuN-2002)