Di Ranah Sepi

29 November 2011

Seperti yang kau katakan
Sepi tak terpahamkan oleh kata-kata
Serupa perpisahan yang juga tak berujung
Pada sekian deret waktu tak bertuan
Karena seperti yang aku katakan
Sepi adalah dalam kesendirian
Dan “kesendirian hanya dapat kau rasakan
jika ada yang lain dalam dirimu“*

Tidak. Dan bukan itu.
Bukan sendiri yang membawa angin-angin malam
Bukan sendiri yang berbalas pada sajak-sajak kehidupan
Bukan sendiri yang berkutat dengan kata-kata tak berbatas
Selama rindu masih menyapa, menyela di kanvas sejarah, tak berlabuh
Berlayar dan terus mengarung
Melintas di samudera tak bertepi

Warna-warna kesepian itu tak bertaut pada perpisahan
Sebab sawah dan gunung masih setia bersenandung
Menyanyikan lagu, berirama dalam hidup

Di penat kota metropolitan, pusat peradaban dan perbudakan
Aku belajar menjadi air, bergemiricik
Dan mengalir, membasahi tanah-tanah bundaku
Lalu menguap dan menyentuh awan
Untuk kembali membumi dalam basah dan sejuk
Agar sepi merajut sulaman jiwa
Menembus batas-batas yang berdiri angkuh, berkacak pinggang
Seolah membangun istana kesendirian
Sedang sendiri tak pernah ada

Jakarta, maret 2008

Advertisements

29 November 2011


Sejenak kau ajak aku dalam sepi
meski tak harus diam dan berhenti membaca
karena masih banyak ayatayat yang harus dikumandangkan, pada saatnya nanti

Perjalanan harus terus dilanjutkan…


16:40

29 November 2011

ia melaju…


Membangun Solidaritas Umat

29 November 2011

Dengan melihat aspek manusia sebagai makhluk sosial, tentu akan selalu dihadapkan pada berbagai keragaman dan perbedaan dan bisa menjadi salah satu potensi terjadinya silang pendapat, perbedaan cara pandang dan bagaimana meghadapinya. Maka, bagaimana menyikapi keragaman dan perbedaan inilah yang menjadi landasan untuk menjaga dan merawat hubungan sosial antar sesama.

Salah satu anjuran Agama Islam dalam menyikapi keragaman dan perbedaan ini adalah dengan menjalin silaturrahmi antar sesama. Banyak ayat dalam kitab suci al-Quran maupun sabda Nabi Muhammad SAW dalam al-Hadits yang secara tersurat maupun tersirat mengungkapkan anjuran ini. Karena salah satu tujuan inti silaturahmi ini adalah untuk menjaga komunikasi dan sikap saling peduli antar sesama.

Banyak cara dan media yang dapat digunakan dalam proses menjalin tali persaudaraan. Lebih-lebih di era komunikasi yang serba canggih saat ini, pesawat telepon, radio atau internet bisa menjadi sarana dalam proses menyambung tali silaturahmi. Dengan media komunikasi yang canggih, pertemuan-pertemuan rutin juga semakin mudah diselenggarakan.

Dalam sejarah perkembangan agama Islam, pada masa Nabi Muhammad SAW banyak peristiwa penting yang tercatat sebagai isyarat tentang pentingnya menyambung tali silaturrahmi. Salah satunya adalah saat Nabi hadir di beberapa forum untuk memusyawarahkan permasalahan tertentu dengan pihak-pihak terkait.

Salah satu contoh media silaturahmi yang memiliki dampak positif yang sangat luar biasa dalam membangun solidaritas umat manusia adalah silaturahmi Nabi Muhammad SAW paska hijrah beliau ke kota Madinah. Dalam beberapa literatur, saat beliau mulai tinggal di kota Madinah ini, setidaknya ada empat kelompok besar yang hidup bersama di kota tersebut. Mereka adalah:
1. Kaum muhajirin; yakni kaum muslimin yang hijrah dari Makkah ke Madinah.
2. Kaum Anshar, yaitu orang-orang Islam pribumi Madinah.
3. Kaum Yahudi yang secara garis besarnya terdiri atas beberapa kelompok suku seperti : Bani Qainuna, Bani Nadhir, dan Bani Quraizhah, dll.
4. Kaum pemeluk “tradisi nenek moyang”, yaitu penganut paganisme atau penyembah berhala.

Keempat kelompok besar ini satu sama lain memiliki beragam perbedaan, baik terkait dengan agama dan kepercayaan, ataupun latar belakang budaya dan kehidupan sosial. Dua hal yang merupakan aspek mendasar dalam diri manusia terkait dengan kehidupan sosialnya. Sehingga, konflik terbuka berupa perang saudara antar suku pun tidak dapat dihindari di antara mereka.

Menyadari potensi yang bisa menjerumus pada perpecahan konflik sosial yang berkepanjangan ini, Nabi SAW menginisiasi sebuah forum silaturahmi dengan mempertemukan banyak pihak di dalamnya. Walhasil, 47 pasal kesepakatan pun dihasilkan dalam forum tersebut demi untuk saling menghormati serta menghargai keragaman dan perbedaan untuk membangun solidaritas antar unsur-unsur masyarakat yang ada di kota Madinah . Seperti misalnya, dalam beberapa pasal disebutkan “Kaum muslimin tidak membiarkan seseorang muslim dibebani dengan utang atau beban keluarga. Mereka memberi bantuan dengan baik untuk keperluan membayar tebusan atau denda (pasal 12)” dan “Kaum Yahudi dan kaum muslimin membiayai pihaknya masing-masing. Kedua belah pihak akan membela satu dengan yang lain dalam menghadapi pihak yang memerangi kelompok-kelompok masyarakat yang menyetujui piagam perjanjian ini. Kedua belah pihak juga saling memberikan saran dan nasihat dalam kebaikan, tidak dalam perbuatan dosa.” (pasal 37). 47 pasal yang memuat kesepakatan-kesepakatan inilah yang kemudian dikenal dengan Piagam Madinah.


AGAMA; Pilar Individu dan Sosial

29 November 2011

Sebagai makhluk sosial, manusia tentu membutuhkan interaksi dengan manusia lain. Dari sekian banyak interaksi inilah yang kemudian memunculkan istilah perubahan sosial. Faktor agama dan budaya, adalah dua dari beberapa faktor mendasar yang selalu memberikan pengaruh pada kehidupan sosial masyarakat. Maka, dua faktor ini pun bisa jadi akan menjadi sangat sensitif ketika disentuh oleh pihak di luar masyarakatnya.

Dalam beberapa kasus terkait dengan isu-isu agama yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini, berbagai respon masyarakat menjadi ekspresi sebagai wujud sikap atas perubahan-perubahan yang terjadi. Salah satu diantaranya adalah dengan menolak. Namun, yang kemudian justru menjadi ironi adalah ketika penolakan terhadap agama atau madzhab lain yang berbeda tersebut adalah dengan juga mengatasnamakan agama. Terlebih lagi, jika penolakan tersebut diikuti dengan tindakan-tindakan yang juga bertentangan dengan agama. Tindak kekerasan dan intimidasi, misalnya.

Dalam perspektif Islam, agama adalah salah satu hal yang sangat mendasar dalam mengatur kehidupan manusia. Baik dalam kehidupan pribadi (hablum minallah) maupun sosial (hablum minannas). Islam selalu mengajarkan sekaligus menjadi pilar utama untuk membangun kepribadian seseorang. Seperti yang tersurat ataupun tersirat dalam ritual-ritual keagamaan. Sebut saja ritual puasa di Bulan Ramadhan. Sebuah hadits qudsi menegaskan, “Setiap amal anak adam adalah miliknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa adalah milikku, Dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Muttafaqun ‘alaih). Sebuah pernyataan yang menunjukkan kemutlakan bahwa hanya anak adam (baca: manusia, yang bersangkutan) dan Tuhan-lah yang berhak “mengklaim” ibadah puasa seseorang.

Sedangkan terkait dengan ritual keagamaan yang bersifat sosial, salah satu contohnya adalah zakat. Selain sebagai sarana untuk membersihkan dan menyucikan diri (QS. 10:103), zakat juga merupakan ibadah yang bisa memberikan dampak langsung pada hubungan sosial antar umat manusia. Dengan kata lain, toleransi antar sesama umat manusia menjadi salah satu pelajaran penting tentang hakikat ibadah zakat tersebut.

Di sisi lain, terkait dengan hubungan sosial antar umat manusia (baca: dengan segala keberbedaan dan keberagaman dalam hal agama atau madzhab/aliran), Islam pun memberikan pijakan tegas. Al Quran, sebagai pijakan utama bagi Umat Islam, memberikan beberapa penegasan. Seperti misalnya; dalam QS. 18:29 yang menyebutkan; “Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin biarlah ia kafir“.

Membaca ayat di atas, pertanyaan yang kemudian menggelitik penulis adalah; apakah seseorang memiliki hak untuk memberikan justifikasi benar atau salah atas agama atau keyakinan orang lain? Sedangkan Tuhan sendiri telah memberikan kelonggaran kepada manusia untuk memilih beriman atau tidak? Yang tentu saja dengan segala konsekuensinya.

Belum lagi pertanyaan tersebut di atas terjawab, yang justru terjadi adalah hukuman telah dijatuhkan kepada para pemeluk agama atau keyakinan yang berbeda. Dalam beberapa kasus, kalaupun (sekali lagi; kalaupun) yang berbeda “dianggap salah”, bukankah agama juga mengajarkan bagaimana mekanisme dalam menyikapi dan mengelola perbedaan tersebut. Setidaknya, ada media klarifikasi dalam proses penyelesaiannya. Tidak asal main tuduh dan main hakim sendiri. “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. 3:159)

Dan beberapa ayat yang menjelaskan tentang “bagimu agamamu, bagiku agamaku” (QS. 109:6), “Tidak ada paksaan untuk agama…” (QS. 2:256) dan ayat-ayat lainnya.

Jika dikaji lebih jauhu, secara tersirat ayat-ayat tersebut di atas telah memberikan pijakan mendasar, bahwa bukan klaim benar dan salah, sesat dan tidak sesat ataupun kalah dan menang dalam menyikapi dan mengelola perbedaan (agama) dalam kehidupan sosial umat manusia. Namun, lebih menitikberatkan pada nilai-nilai kebersamaanlah yang seharusnya menjadi hakikatnya. [22.09.11]

Wallahu a’lam…


surga kita

29 November 2011

-1
surga mana yang kau tawarkan
sementara sujudku tergadai
pada jeda dan rasa ingin
karena tak tahu apa itu surga

rasa membunuh waktu
melupakan makna
pada cita tertinggi
sedang hati
mati tanpa menikmati

pintu terkuak
lebar menghadang angin malam
membasahi bumi
berpijak pada rindu

semakin malam bergelantung
tak ada kata meramu
sunyi membiarkan terbang tinggi
karena hujan semalam
memainkan irama yang tertinggal

bersama decak di pelataran
ketika awan menampung cerutu
sahutan gelap menerpa cahaya
tentang kehidupan
yang harus tetap dikobarkan

-2
yang terjadi adalah
surga menjamu sederet kafilah
untuk singgah, entah sejenak
atau selamanya
dan tak berakhir di ujung penantian

makin panjang jalan berbayang
namun tetap memberi kata
agar tak lekang mencari
surga mana yang kau tawarkan

-3
akan kau bangun sebuah surga untukmu, sayang
jika hatimu bertaut di hatimu. bukan yang lain
bertabur rasa tak terperi
bersama bidadari di relungmu

-4
cahaya itu akan berpendar
mencari suara-suara di kesunyian
ketika kau kuasa menyapa apa dan siapa
dalam ranah bernama kehidupan
lalu jubah sahaja meramu pematang hati

tanpa keinginan di bibir pantai
atau semenanjung tak terkira
lenyap. bersama riak gelombang manusia
yang kau sapa di tengah kerumunan
ketika senyum menyiangi wajah. tersungging

hendakkah kau berkata, “surga mana yang kau tawarkan?”

Jakarta-Bogor, awal Mei 2008


surga kita

29 November 2011

-1
surga mana yang kau tawarkan
sementara sujudku tergadai
pada jeda dan rasa ingin
karena tak tahu apa itu surga

rasa membunuh waktu
melupakan makna
pada cita tertinggi
sedang hati
mati tanpa menikmati

pintu terkuak
lebar menghadang angin malam
membasahi bumi
berpijak pada rindu

semakin malam bergelantung
tak ada kata meramu
sunyi membiarkan terbang tinggi
karena hujan semalam
memainkan irama yang tertinggal

bersama decak di pelataran
ketika awan menampung cerutu
sahutan gelap menerpa cahaya
tentang kehidupan
yang harus tetap dikobarkan

-2
yang terjadi adalah
surga menjamu sederet kafilah
untuk singgah, entah sejenak
atau selamanya
dan tak berakhir di ujung penantian

makin panjang jalan berbayang
namun tetap memberi kata
agar tak lekang mencari
surga mana yang kau tawarkan

-3
akan kau bangun sebuah surga untukmu, sayang
jika hatimu bertaut di hatimu. bukan yang lain
bertabur rasa tak terperi
bersama bidadari di relungmu

-4
cahaya itu akan berpendar
mencari suara-suara di kesunyian
ketika kau kuasa menyapa apa dan siapa
dalam ranah bernama kehidupan
lalu jubah sahaja meramu pematang hati

tanpa keinginan di bibir pantai
atau semenanjung tak terkira
lenyap. bersama riak gelombang manusia
yang kau sapa di tengah kerumunan
ketika senyum menyiangi wajah. tersungging

hendakkah kau berkata, “surga mana yang kau tawarkan?”

Jakarta-Bogor, awal Mei 2008