Risalah #1

20 May 2012

Kepada :
Seorang yang telah kukatakan cintaku kepadanya

Inilah risalahku yang pertama untukmu. Sebuah risalah yang dengannya aku ingin berbincang tentang aku, engkau, dia, kita, mereka, atau yang lainnya.

Risalah ini sengaja aku berikan kepadamu sebagai sebuah penghormatanku atas segala yang telah, sedang dan akan terjadi dalam sejarah cinta. karena ia-lah yang memberikan udara untuk menyelami paru-paru agar terus menghembuskan nafas dari ketulusan hati. Maka, sebentuk harapan ketika kata-kata telah terangkai menjadi bingkai kehidupan dalam hiasan-hiasan dinding seorang anak manusia ini adalah sebuah isyarat agar sang guru terus mengajarkan ejaan ayat-ayat tentang makna keberadaan hakiki.

Jika risalah ini kukatakan sebagai sebuah risalah yang mengatasnamakan cinta, aku berharap bahwa engkau pun sudi menerima risalah-risalah ini dalam ketulusan cinta. Meski sesekali harus bersitegang dengan para ‘pecundang’ yang mengatakan bahwa tak akan ada ketulusan dalam kehidupan. Karena ketulusan atas apa pun telah tersembunyi rapi dalam bungkus kepentingan. Namun aku mencoba untuk tidak peduli, terlebih jika ada yang mengatakan bahwa cinta hanya menjadi pelarian bagi para sang pecundang. Bukankah air memang tak dapat diketahui kapan akan berhenti?

Sekali lagi, aku mencoba untuk tidak peduli dengan itu semua. Juga kepada siapa cinta akan kau berikan saat risalah-risalah ini aku persembahkan kepadamu. Karena aku yakin, cintaku takkan pernah sama dengan cintamu. Cintamu takkan pernah sama dengan cintanya. Cintanya takkan pernah sama dengan cinta kita. Cinta kita takkan pernah sama dengan cinta mereka. Begitu seterusnya. Lalu mengapa risalah-risalah mu ini Kau tujukan kepada ku? Mungkin begitu pertanyaan yang hinggap di dirimu.

Alasan adalah sebuah keniscayaan bagiku ketika aku melakukan segala sesuatu. Jika tak ada alasan, aku hanya dapat berdiam diri. Pun dalam diamku, toh aku tetap saja harus mempunyai alasan mengapa aku diam, meski hanya sekadar apologi bahwa aku diam dengan alasan karena aku tidak mempunyai alasan. Oleh karena itulah, mengapa risalah-risalah yang aku atasnamakan cinta di dalamnya ini aku berikan kepadamu. Kemudian, jika kau bertanya alasanku mengapa harus kepadamu, itu karena aku yakin bahwa alam telah mengikatku dengan seseorang. Dan dalam ikhtiarku untuk mengetahui kebenarannya, benakku bertanya, “Engkau-kah itu?

Saat mencari jawaban itulah, aku mencoba untuk bermain dengan definisi-definisi seperti aku adalah aku dan engkau adalah engkau. Begitu juga cinta. Cinta adalah cinta. Hingga kemudian aku merasakan dan yakin bahwa ada sesuatu yang selalu menarikku untuk selalu mengikat diriku, dirimu dan juga cinta dalam sebuah ikatan. Namun, percayalah bahwa cinta yang kuutarakan kepadamu ini tak seperti yang aku ungkapkan dalam risalah-risalah ini. Cinta yang tak seperti kata-kata yang kusuntingkan kepadamu. Cinta yang tak seperti puisi-puisi yang kutujukan untukmu dalam rayuan-rayuan gombal dengan mengatasnamakan pujangga cinta. Namun, yakinlah bahwa cinta lebih dari sekadar itu.

Jadi, percayakah kau?

ttd, Yang mencintaimu dari sebuah bilik kamar kecil


MAAF untuk KASIH SAYANG

20 May 2012

“Maaf Mpok Oneng, saya mau tanya.”
“Maaf Bang Juri, saya hanya mau mengembalikan ini.”

Dua penggal kalimat mengingatkan kita pada seorang tokoh dalam sebuah tayangan komedi situasi yang disiarkan oleh sebuah stasiun TV beberapa tahun lalu. Ya, berkali-kali si tokoh tersebut selalu saja menggunakan kata “maaf” dalam dialognya. Mpok Minah, itulah nama tokoh tersebut. Pengulangan kata “maaf”-nya yang telah menginternalisasi dalam dirinya, tersuratkan dari mimik mukanya. Ia selalu terlihat selalu cemas dalam mengawali dialognya. Begitu pula dengan tekstur tubuhnya yang menggambarkan rasa kehati-hatiannya saat menjalin komunikasi dengan orang lain, karena khawatir kata-katanya akan menyinggung atau menyakiti lawan bicaranya.

Ironisnya, tayangan yang oleh sang penulis skenario dimaksudkan untuk menjadi sebuah tayangan komedi tuntunan yang mendidik ini kerapkali dianggap sebagai tayangan hiburan un sich. Termasuk tokoh Mpok Minah, figur yang kaya akan permintaan maaf, bahkan sebelum diminta oleh orang lain. Maka, yang terjadi adalah permintaan maaf yang berkali-kali diucapkan oleh Mpok Minah pun dianggap hanya sebuah guyonan belaka. Dari sinilah, salah satu hal penting yang kemudian dapat menjadi bahan renungan adalah; apakah ketika seseorang mengajukan permintaan maafnya “hanya” karena kesalahan atau kekeliruan yang telah ia lakukan? Bagaimana dengan permintaan maaf karena khawatir karena kesalahan atau kekeliruan yang mungkin saja bisa mengakibatkan orang lain merasa tersinggung, bahkan tersakiti?

Dari dua pertanyaan tersebut, kiranya pertanyaan pertamalah yang seringkali menjadi justifikasi untuk menyaratkan adanya permintaan maaf. Dengan kata lain, permintaan maaf seringkali dianggap sebagai reaksi yang harus dilakukan saat aksi kesalahan telah dilakukannya. Sehingga, secara tidak langsung permintaan maaf pun digunakan sebagai salah satu indikator untuk menyatakan seseroang telah melakukan kesalahan atau tidak. Coba saja simak ungkapan “karena kau yang melakukan, jadi kau yang harus minta maaf.”

Di sisi lain, orang yang dimintai maaf pun acapkali juga dibimbangkan dengan berbagai akibat yang telah diterimanya. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki sifat dasar untuk saling menghargai, saling membutuhkan, dan saling menolong antara yang satu dengan yang lain. Sehingga, ketika nilai-nilai tersebut telah terluka, maka kekuatan untuk bisa memberikan maaf akibat luka tersebut pun turut melemah. Di sinilah kekuatan spiritual (baca; religiusitas) menjadi salah satu benteng pertahanan untuk tetap mampu mengendalikan emosional seseorang.

Mengapa spiritual?
Dalam menjalani aktifitas kehidupan kesehariannya, manusia akan selalu terikat pada beberapa aspek. Selain aspek sosial seperti di atas, manusia sebagai individu tentu memiliki kapasitasnya masing-masing, yang salah satu faktor penguatnya adalah nilai-nilai spiritualitas tersebut. Secara keagamaan, banyak pelajaran dan hikmah yang seharusnya mampu digunakan sebagai pijakan tentang bagaimana sikap kebesaran hati bisa diwujudkan dengan memberi maaf, bahkan sebelum diminta.

Salah satu pelajaran mendasar tentang maaf tersebut dapat disimak dalam QS. Al Imron (3) ayat 33-34, yang artinya kurang lebih adalah “Dan bersegeralah kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yakni) orang-orang yang menginfaqkan (hartanya di jalan Allah) dalam kesempatan atau kesempitan, dan mampu menahan amarah, serta meraka yang memberi maaf kepada manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Di awal ayat tersebut, perintah meminta maaf didasarkan pada sifat Tuhan yang maha pemberi ampun. Maka, manusia yang mampu menjelmakan sifat-sifat Tuhan dalam kehidupannya pun akan mendapatkan balasan yang sangat besar di sisi-Nya. Sedangkan di akhir ayat, pelajaran ini menyebutkan tentang kebaikan, yang dalam konsep agama, khususnya Islam, sebuah kebaikan adalah nilai kelipatan yang akan terus berlipat ganda. Baik secara kuantitas ataupun kualitasnya.

Memberi maaf disebut sebagai kebaikan, karena ia mengandung nilai-nilai kebaikan lainnya. Dengan kata lain, orang yang mempu memberi maaf kepada orang lain, setidaknya ia telah menanamkan nilai percaya, sekaligus menghargai dan saling menolong. Percaya; karena permohonan maaf (baca: taubat) yang sebenarnya adalah implementasi sikap untuk tidak lagi mengulangi “kesalahan” di masa-masa selanjutnya. Atau dengan bahasa logika bisa dikatakan, seseorang akan mampu, atau bahkan memberikan maaf kepada seseorang sebelum dipinta jika ia telah memiliki kepercayaan dan keyakinan bahwa orang seseorang tersebut tidak akan mengulanginya lagi di waktu mendatang.

Di saat yang bersamaan, kepercayaan yang diwujudkan dalam nilai maaf ini pun menjadi salah satu modal utama untuk bisa membantu dan menolong orang lain agar bisa menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Siapapun orangnya, tentu akan merasa lebih nyaman dan dihargai saat ia mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Inilah dasar filosofi budaya Jawa yang mengatakan nguwongke wong.

Sedangkan nilai untuk menghargai orang lain yang terepresentasikan dalam nilai maaf ini adalah kemampuan seseorang untuk menerima perbedaan. Bisa jadi saat ia tersakiti oleh orang lain, sementara orang yang menyakitinya tidak merasa bahwa ternyata ia menyakiti orang lain. Artinya, bisa jadi orang lain akan menganggap sesuatu yang dilakukannya adalah sebuah kebenaran. Sementara orang lain bisa juga menganggapnya sebagai sebuah kesalahan. Menghargai perbedaan inilah yang kemudian menjelma menjadi salah satu cabang dari pohon maaf tersebut.

Menyadari kemampuan untuk memberikan maaf dengan sendirinya akan mengukuhkan nilai-nilai kemanusiaan seseorang. Tiga nilai manusia sebagai makhluk sosial di atas yang ditopang dengan nilai-nilai spiritualitas (baca: religiusitas) inilah yang kemudian mampu melahirkan nilai-nilai kasih sayang antar sesama.

Tentang kasih sayang ini, hal mendasar yang barangkali juga perlu direnungkan kembali adalah pelajaran peribahasa “tak kenal maka tak sayang”. Yang menjadi pertanyaannya adalah tak kenal seperti apakah yang tak berhak mendapatkan kasih sayang. Padahal, jika kita kembali berpijak pada nilai-nilai spiritualitas, khususnya Islam, maka peribahasa ini pun perlu dipertanyakan kembali. Karena Islam datang untuk umat manusia dilandaskan pada ungkapan “rahmatan lil ‘alamiin” yang berarti kasih sayang untuk seluruh alam semesta.

Catatan untuk “Buddhist-Muslim YouthCamp”, Jogjakarta, 2012