DUA SISI

25 April 2013

Dalam malam temaram, sepasang mata memandang bulan yang hanya mengintip bumi dari balik awan tanpa sudi membuka kelopak matanya terbuka lebar. Kedua bola mata itu tak lagi kuat menahan semilir angin malam yang dingin. Di beranda rumah bercat hijau muda, bibirnya tak mampu bergerak untuk mencoba mengucapkan kata-kata yang bergemuruh di balik dadanya. Meski irama dada yang naik turun hendak meledak. Setiap desahan nafasnya memberikan rangkaian kata-kata yang mencerminkan kegalauan hatinya.

“Cinta telah memberikan kehidupan yang nyata. Walau sejuta bayangan impian tetap mengganyut di otak”. Tiba-tiba rangkaian kata-kata itu keluar dari bibirnya. Tersentak laki-laki itu mendengar ucapannya sendiri. Bagaimana mungkin kata-kata itu bisa keluar begitu saja dari mulutnya, sedangkan pikirannya masih menerawang tentang temaram malam yang melimuti seluruh pori-pori kulitnya.

Terbayang dalam benaknya ketika ia menghabiskan masa mudanya dalam kebimbangan menuju jalan yang sekarang telah mengantarnya menjadi seorang kakek dari cucu-cucunya.

“Harus ini, lain tidak !” itulah kata-kata yang telah merubah segala perjalanan hidupnya saat ia berdiri terpaku di sebuah persimpangan jalan. Yang beberapa saat kemudian, ia hanya menuruti langkah kakinya ke mana akan melangkah. “Kebajikan memang sulit untuk dipaksakan”. Begitulah ia selalu menggerutu. Meski begitu, ia tetap saja menuruti jejak demi jejak yang ditinggalkan oleh telapak kakinya. Dan sesampainya di rumah, bayangan masa lalunya masih saja terngiang. Ia termenung. Terpaku dan bersimpuh.

Di pelataran rumah, aku dan seorang sahabatnya yang telah mengikutinya selama kurang lebih dua puluh tahun tengah menanti kedatangannya. Ia mengajak kami bermain dan menghabiskan waktu untuk mengisi cerahnya udara di senja itu. Permainan yang mengingatkannya pada masa kanak-kanak. Berlarian ke sana ke mari tanpa rasa lelah. Tertawa dan bermain tanpa mengenal waktu dan dan yang hendak di tuju. Bercengkerama tentang indahnya sunset di kaki langit. Waktu malam yang datang pun tak kami hiraukan. Hingga terasa rasa jemu dan kemudian kami pun berbaring di atas pasir. Sang bulan yang tak tak juga datang mengunjungi menambah suasana semakin menggoda untuk memejamkan ketiga pasang mata ini. Sementara kami bertiga terus berbincang tentang alam, kehidupan, masa depan, surga dan tentang apa saja, ibunya masih merajut selendang untuk menyelimutinya. Sebuah selimut yang akan menghangatkan tubuhnya saat ia pulang dan tidur di ranjang di kamarnya. Dengan kesabaran dan kasih sayang seorang ibu, satu persatu dari benang-benang halus itu dipintalnya.

“Aku adalah raja dari dunia ini. Dengan kedua telapak tanganku inilah, aku akan membalikkan dunia. Akan aku buat takdir dunia dalam setiap genggamanku”, ia berteriak dengan disertai urat-urat lehernya yang mengencang. Namun ia tak juga kunjung mengerti tentang dunia yang terus menebarkan cinta di setiap hembusan nafasnya. Sang perempuan yang dicintainya telah meninggalkan, meski hal itu tidak dipercayainya. Segala kenyataan yang telah ia dapatkan pun juga tak dipercayainya. “Aku hanya percaya pada Tuhan,” begitu jawabannya ketika ditanya tentang sebuah peristiwa dalam hidupnya.

“Maukah Engkau menikahiku?” tanya kekasihnya suatu saat. Dan sekali lagi, ia pun tak mempercayai pertanyaan itu. Malah ia kembali bertanya untuk menemukan jawabannya. Itu yang aku dapatkan dari cerita yang ia tuturkan. “Apakah ia mau menjawab pertanyaan balikmu?” Sahabatnya bertanya tapa melepasakan pandangangnya ke arah langit. “Mengapa Engkau bertanya begitu. Apa maksudmu?” Setengah membentak ia bangkit dari pasir tempat ia berbaring. Sedangkan sahabatnya hanya tersenyum melihat seorang temannya mengajak bercanda. Hanya senyum kecil yang menghiasi bibirnya untuk menjawab pertanyaan itu.

Kemudian ia berdiri. Sebentar ia terpaku. Dan secepat angin, ia cengkeram leher baju sahabatnya sembari berteriak tepat di depan wajah sahabatnya. “Apa maksudmu?!”

Sahabatnya tak menjawab. Ia hanya mengikuti kemauan sahabat yang mencengkeram leher bajunya. Kedua pasang mata mereka saling beradu. Aku sendiri tak begitu jelas melihat sorot mata mereka.

Aku hanya terkesima tanpa dapat berbuat sesuatu apapun. “Kali ini ia benar-benar marah,” batinku. Aku heran. Selama ini, ia tak pernah berbuat seperti ini. Dalam kesehariannya, aku pun tahu jika ia tak pernah meluapkan emosinya. Bahkan sepengetahuanku ia adalah seorang lelaki pertama yang pernah kujumpai yang tidak bisa marah. Selalu menghadapi dunia dengan senyum kecil di kedua bibirnya. Selalu kalah dan dikalahkan oleh keadaan namun tetap tegar. Dan mungkin karena itulah, ia disegani oleh orang-orang pernah yang mengenalnya. Termasuk aku yang pernah menjadikan ia sebagai guru, orang tua bahkan idola dalam prinsip-prinsip hidupku.

Sedangkan sekarang, perlahan raut mukanya memerah. Kedua daun telinganya terbakar. Sementara jari-jari tangannya bergetar. Dari pipinya aku melihat sebuah amarah yang mungkin selama ini ia pendam dan hendak dimuntahkan sekaligus saat itu. Sesekali dengus nafasnya tertahan dan suara gemertak giginya berbunyi. Tak kusadari, bulu kuduk di leherku mulai berdiri. Tubuhku bergetar. Butiran keringat dingin di dahiku terkadang membuat aku semakin merinding.

Sahabatnya pun mengalami hal yang sama denganku. Tubuhnya bergetar ketakutan. Namun, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Entah takut atau memang ia tak kuasa untuk dapat mengucapkan, aku sendiri tidak tahu.

“Apakah aku tengah melihat seorang Bima tengah bergejolak ketika ia melihat ibu Kunti dipermalukan di depan matanya ?” aku bertanya dengan ketakutan. Aku bangun dari tempatku berbaring. Dengan perlahan aku mencoba untuk meredakan ketegangan yang sempat terjadi di antar kami.

“Mundur Kau! Ini bukan urusanmu!!”. Ia membentakku. Aku pun tak dapat berbuat apa-apa mendengar bentakan yang melebihi halilintar di teriknya siang hari. Aku hanya mundur beberapa langkah dan menjauh dari mereka berdua, meski kedua mataku masih terus memperhatikan mereka. Karena bagaimanapun juga, keduanya adalah teman-temanku dan aku merasa bertanggung jawab atas persahabatan ini.

Dari tempat aku berdiri, ku tatap keduanya masih berdiri tegang tanpa bergerak. Namun, pemandangan yang aku lihat saat itu bagaikan seekor singa liar yang tengah mencengkeram mangsanya dan siap untuk dilumat habis. Aku masih terpaku dan menunggu.

Selang beberapa jam, ketegangan mulai mereda. Kembali aku dibuat terheran-heran dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Tanpa sepatah kata perlahan ia melangkahkan kaki menuju ke arah barat dan meninggalkan kami berdua yang masih berdiri terpaku dengan sejuta pertanyaan yang mungkin tidak dapat kami tuturkan dalam kata-kata. Kini, aku bisa bernafas lega setelah beberapa saat mengalami sebuah keajaiban alam. Di telingaku, sayup-sayup terdengar suara adzan dari satu tempat yang menjadi arah langkah kakinya.

Kaliurang, 1999