Warung Kopi

7 August 2014

Sore hari saat menjelang adzan maghrib, sudah menjadi kebiasaan di kampung ini untuk menunggunya sembari berkumpul dan saling bercengekerama. Entah itu di depan rumah, di warung-warung kopi, di pinggir jalan kampung atau juga di serambi surau. Tua muda, anak-anak orang tua, atau juga laki-laki perempuan. Entah itu bermain atau sekedar bercengkerama. Entah siapa yang memulai tradisi seperti ini, namun yang pasti, suasana tampak begitu familiar.

Aku sendiri pun juga tengah berada di antara mereka. Dengan beberapa orang, kami duduk dan berbincang tentang hal-hal kecil di warung kopi milik Mas Cip. Warungnya memang tidak begitu besar. Mungkin untuk tujuh sampai sembilan orang pengunjung pun tempat itu sudah terlihat penuh. Soal rasanya, jangan ditanya. Karena di kampung ini, warung milik Mas Cip termasuk yang paling enak.

“Kamu kok diam aja dari tadi, Kang. Wajahmu juga kusut gitu. Di rumah ada yang ngambek lagi ya?”

Aku sempat kaget juga dengan pertanyaan yang disodorkan kepadaku. “Nggak kok, Lik. Lagi pengen diam aja,” jawabku memberi alasan.

Di kampung ini, panggilan semacam Kang, Lik, Pak Dhe, ataupun ungkapan-ungkapan familiar lainnya memang sangat kental. Dan itu juga yang mungin bisa memberikan rasa kekeluargaan di antara warganya.

Dua hari yang lalu, aku mendapatkan surat PHK dari majikanku. Entah apa penyebabnya. Dan selama tiga hari itu aku hanya bisa marah-marah terus uring-uringan sepanjang hari. Dalam hati pun aku hanya bisa menggerundel sendirian tanpa tahu kepada siapa aku tujukan gerundelanku.

Dalam diamku, samar-samar aku mendengar suara seorang perempuan dan dua anak kecil dari dalam warung kopi Mas Cip. Semula aku tak begitu memperhatikan suara itu. Apalagi kondisi ku yang sedang labil karena PHK itu.

Tapi tiba-tiba aku tersentak juga mendengar suara perempuan itu.

“Jadi orang itu, jangan lupa sampai untuk selalu bersyukur. Sesakit apapun yang kita rasakan, itu harus disyukuri, Nak.”
“Apakah ibu juga bisa bersyukur ketika dua hari yang lalu banjir melanda sawah kita dan menghanyutkan tiga ekor kambing kita?”

Diam sesaat.

“Kalau tidak mau bersyukur?”
“Jika manusia tidak ada lagi yang bersyukur, Tuhan akan menimpakan siksa. Bumi akan dibelah. Terus Langit juga akan runtuh. Kemudian, manusia yang tinggal di bumi akan dihimpit oleh langit itu. Jadi semuanya hancur berantakan”.
“Lalu bagaimana cara kita bersyukur?”
“Ya, sekarang Kalian harus menghabiskan makanan ini. Kemudian minum dan berdoa. Kalian hapal doa sesudah makan, kan?
Al hamdulillahilladzii ath`amanaa wasaqaanaa waja`alanaa minal muslimiin…

Samar-samar kudengar lantunan doa itu diucapkan oleh anak-anak kecil yang untuk mengucapkan huruf-hurufnya pun masih terdengar cedal.

“Pinteerr. Nah sekarang makan dulu ya? Nanti kalau sudah selesai makan, trus ke kamar mandi. Ambil air wudlu dan siap-siap ke surau untuk sholat…”
“Maghriiib…”
“Berapa raka`at?”
“Tigaa…”

“Sudah Mas. Kopi satu, tahu satu dan rokoknya dua?”

Aku segera menyerahkan dua lembar uang ribuan.

“Sisanya tinggal di sini dulu aja, Mas. Buat besok lagi.”
“Lho mau ke mana tho, Kang?”
“Pulang dulu, Lik. Sudah hampir maghrib nih”

Aku melangkahkan kaki meninggalkan warung kopi Mas Cip. Suara perempuan dan dua anak itu masih jelas terngiang di telingaku. Sesampai di pertigaan kampung, tiba-tiba berkumandang suara dari surau kampung di depan sana yang seolah menarikku. Langkah kakiku hanya bisa bergerak mendekati arah suara itu. Saat tiba di depan surau yang tak begitu besar, ada tetesan air yang membasahi pipiku. Apa yang terjadi, batinku hanya bisa bertanya.

Advertisements