Ikhlas

19 October 2015

​Kamis Kliwon, Jumat Legi, Sabtu Pahing… Mugi tansah pinaringan husnul khatimah…
Allah lebih sayang kpd hambaNya… belum genap 1 tahun bulik no.6, belum cukup 40 hr mbah putri, kini Engkau panggil bulik kami yg no. 3… 
Mohon tambahkan keikhlasan pada kami, ya Allah…
(Status dan komentar di laman facebook adik, 9 Oktober 2015, 08:31)

Kini, aku belajar tentang keikhlasan itu dari beliau. Ujian bertubi yang –semoga menjadi ungkapan dan bentuk atas kasih sayang dan cinta-Nya– kepada beliau, sangat jauh dari kekhawatiran dan ketakutan yang kami bangun dalam kerapuhan dan kelemahan kami.

Di hari Jumat, ibu menjenguk nenek kami yang tengah dirawat di rumah sakit Jombang. Lalu di hari yang sama, pulang ke Temanggung karena hari Ahad sorenya harus berangkat dari Temanggung menuju ke Embarkasi Donohudan Solo, untuk selanjutnya terbang ke Jeddah dan melaksanakan ibadah haji. Tak lebih dari satu minggu, tepatnya di Hari Rabu, ibu mendapatkan kabar duka, nenek kami tercinta meninggal, menghadap ke hadirat Ilahi Robbi.

Kesedihan seperti ini tidak jauh berbeda dengan yang kami rasakan sekitar 9 tahun ang lalu. Saat itu, aku dan istriku berpamitan kepada bapak kami (bapak mertuaku) di awal-awal kami hijrah untuk memulai hidup di kota Jakarta. Dua hari setiba kami di Jakarta, istriku mendapatkan kabar duka, bapak kami tercinta meninggal, menghadap ke hadirat Ilahi Robbi. Jarak Jakarta-Temanggung masih memungkinkan untuk kami tempuh. Kurang dari 24 jam, kami langsung bisa berdoa di depan pusara bapak. Tapi ibu, hanya bisa berdoa dari Tanah suci, dan mesti menunggu sekitar 40 hari lagi untuk bisa berdoa di depan pusara nenek kami tercinta.

Tanggal 9 Dzulhijah pukul 20.30 wib, ketika aku tengah berada di halaman masjid bersama para tetangga dalam rangka persiapan pelaksanaan ibadah qurban untuk esok hari, ibu menelponku. “Mumpung taseh asar teng arafah niki… Ibu ndungo, sampean sak anak bojo ngamini“. Ibu memintaku berkumpul bersama istri dan anak-anakku untuk mengamini doa khotmil quran yang ibu panjatkan di Padang Arafah. Tak kuasa, luluh juga air mata ini ketika beliau mengkhususkan salah satu doanya untuk nenek kami.

Beberapa hari menjelang kepulangan ibu, tepatnya ketika terjadi Tragedi Mina, kami, keluarga di Indonesia mendapat kabar; ibu mendapat ujian dari-Nya dan harus dirawat di rumah sakit Mina. Semua teman, kerabat atau siapapun yang kami rasa punya informasi valid tentang tragedi itu kami kontak. Kami terus mencari update tentang korban tragedi itu. Dan alhamdulillah, kami tidak mendapatkan nama ibu dari sekian informasi tersebut. Ibu memang sempat pingsan dan tidak sadarkan diri pada saat hendak melaksanakan ibadah melempar jumroh di Mina, namun bukan karena tragedi tersebut. Kondisi kesehatan ibu sedang drop.

Alhamdulillah, tidak lebih dari sehari, ibu sudah bisa pulang ke tenda. Namun, tidak sampai sehari juga, ibu harus kembali dibawa harus lagi ke rumah sakit. Atas rekomendasi petugas medis, ibu dianjurkan untuk pulang lebih dulu dari jadwal dan kloter ​yang ​ seharusnya. Maka, Kamis pagi hari waktu jeddah, ibu ​di​terbang​kan dari Jeddah menuju Indonesia. Informasi yang kami dapatkan, Ibu akan landing sekitar pukul 22.30, dan setelah urusan administrasi, langsung pulang karena ada petugas Depag dan Pemda yang menjemput ibu. Diperkirakan sekitar pukul 03.00 Jumat dini hari, ibu sudah tiba di rumah.

Kamis siang, aku dan istri serta anak-anak berangkat dari Jakarta. Syukur kalo bisa menyambut ibu di Solo. Saat dalam perjalanan itulah, kabar duka kami terima. Bulek kami telah dipanggil oleh Sang Gusti. ​Beliau adalah anak ke-3 dari nenek kami. Sedangkan ibu adalah anak ke-2 dari 8 bersaudari. ​Sepanjang malam dalam perjalanan itu pun, aku berkejaran dengan waktu. Dan aku kalah..!!

Adzan kumandang subuh terdengar dari Masjid Agung seiring ​aku tiba di depan rumah. Inilah kekhawatiran dan ketakutan yang ​ku​bangun sendiri, ketika melihat rumah dalam keadaan gelap, seolah rumah kosong tak berpenghuni. Tak ada seorang pun yang ​terlihat di dalam sana. Tak ada orang berkerumun layaknya para penyambut kepulangan tamu Allah yang mengharap doa dan berkah. Bapak memang ​sedang tidak di rumah​ karena ada hajat saudara di Surabaya​​. Rencananya, Hari Jumat pagi atau siang baru tiba kembali di rumah, lalu hari Sabtu malam akan menjemput ibu di Embarkasi Solo. Ya, kepulangan ibu jika sesuai dengan kloter yang sudah dijadwalkan memang baru tiba Ahad pagi lusa.

​”Nggih, ibu ten lebet,” suara dari dalam sana via telp​on genggamku​ terasa melegakan. Selang tak lama, Pak To dan Pak As keluar, membukakan pintu. ​Dua lelaki ​yang sudah berusia senja itulah yang dimintai tolong oleh bapak untuk menjaga rumah selama beliau pergi ke Surabaya.

​Ibu tengah berbaring di tempat tidur. ​Peluk cium haru mengiringi rasa syukurku melihat kondisi ibu yang sudah membaik. Setelah sejenak melepas haru, Ibu berdiri dan beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Aku segera berdiri dan berniat menjadi penyangga, karena ibu harus berjalan rambatan (berjalan dengan berpegangan pada meja atau dinding karena merasa tak kuat untuk berdiri) menuju ke kamar mandi. “Mboten usah digandheng, mundhak tuman“. Aku hanya berdiri terpaku, menatap ibu seiring dengan mata yang terasa berkaca-kaca.

Di siang hari, beberapa kerabat dekat satu persatu mulai berdatangan setelah mendengar berita ibu sudah tiba di rumah. Dari cerita ibu, “L​eres bu, saestu niki termasuk mu’jizatipun Gusti. Dados keajaibanipun umur​,“​ Ibu menirukan kata-kata yang diucapkan “anak” ibu di tanah suci saat mendampingi ​beliau ​selama masa kritis itu.

​​​Ketika sore menjelang maghrib, kakak tiba di rumah. Lalu malamnya, bapak juga tiba di rumah. Dari cerita bapak, “Mohon maaf, Pak. Kondisi ibu sudah koma. Hanya warna putih di mata ibu ketika diajak berkomunikasi“. Bapak menirukan kesaksian kakak ​kami ​yang sedang berstatus sebagai petugas haji yang juga bisa mendampingi ibu di masa kritis itu.

Oleh-oleh cerita dari ibu masih seputar apa yang ibu rasakan selama masa-masa kritis itu. Tentang, “Mungkin niki amargo roso gumedhene ibu naliko kuwi. Najan howone panas, insya Allah kuat. Wong jaman poso sing hawane luwih panas ae kuat kok. Opo maneh saiki, sing sakwayah-wayah iso ngombe lan mesti nggowo zamzam raketang rong botol,” begitulah ibu bercerita.

Kami mendengar sembari mencoba untuk belajar hikmah tentang seberapa daya yang dimiliki oleh seorang manusia​ sebagai makhluk-Nya​. Aku sendiri hanya bisa berusaha menyembunyikan haru. ​ Karena lagi-lagi, kekhawatiran dan ketakutan mulai terbangun dalam diri seiring ketika, “Ibu nggih pun ​niat. Nek ​sido ​mulih dino ​A​had, mudhun ko pesawat langsung ajeng ngetan, ​ajeng ​tumut mendhaki bule lan 40-e mbah. Koper lan gawan liyane yo mbuh, mboten kepikiran maleh.” Tak kuasa basah mata ini dan kilu bibir ini. Ada gemuruh yang harus tetap terjaga agar “kaleh tigang dintene Bulek Dloh, bu” tetap hanya dalam batin saja yang berbicara.

“Iki ​Abi arep tilik ibu, sak iki posisi lagi tekan Ngawi,” bapak memecah kebisu​anku ketika mendengar azam ibu​.

​Ada raut bahagia tersirat dalam wajah teduh ibu saat mendengar berita itu. ​Abi, adalah sebutan kami untuk suami dari bulek kami, adik ibu yang ketiga. Abi dan bulek inilah yang bersama ibu melaksanakan ibadah umroh selama sebulan penuh di bulan Ramadhan yang lalu, yang kemudian tidak lebih dari 2 bulan berjalan, Ibu musti kembali ke Tanah suci untuk melaksanakan ibadah hajinya. Lalu, malam terus merambat dan tubuh-tubuh kami pun merajuk untuk beristirahat sejenak.

Di malam hari, saat jam perkiraan Abi datang, rombongan belum datang.​ ​Aku hanya bisa memastikan, apakah abi sudah tiba atau belum dengan beberapa kali terjaga dari tidur dan melongok lewat jendela. Dan aku tersentak, ketika melihat ibu tidur berbaring di kursi tamu. Subhanallah, lagi-lagi ​aku harus berusaha menahan isak dan linangan air mata. Untuk berjalan ke kamar mandi yang ada di depan tempat tidur saja, ibu harus rambatan (berjalan sambil berpegangan tembok atau meja), namun kini​, dengan keikhlas​annya, ibu​ menyiapkan dirinya untuk ​menyambut ​kedatangan ​sang ​adik.

Adzan Subuh sudah bersenandung, Abi juga tak kunjung ​tampak. Selepas jamaah subuh turun (selesai) dari Masjid Agung, Abi ​baru ​tiba di rumah. “Jam setunggil wau dugi. Parkire radi mrono, wed​i​ ngganggu istirahate ibumu. Iki mau melok subuhan ndek mesjid​, terus nembe mrene…​,” begitu abi bercerita.

Suasana haru biru ketika ibu dan bulek saling melepas rindu. Suasana hening dan senyap untuk sesaat. Hanya isak dan beberapa sesenggukan yang mewakili perbincangan di pagi selepas subuh itu. Dan lagi, untuk kesekian kalinya kekhawatiran itu terbangun juga​; Bagaimana akan melewatinya ketika ibu harus mendengar berita ​tentang ​adiknya yang pertama telah menemui mbah putri?

Untuk sesaat kami bercengkerama melepas rindu. Lalu ibu masuk ke dalam untuk menunaikan sholat subuh. Di saat tanpa keberadaan ibu itulah, bapak, abi dan bulek​ seperti ​mengatur strategi untuk bagaimana menyampaikan kabar duka tentang meninggalnya bulek kami.

“Bagaimanapun juga, mbakyu harus dikasih tahu?”
“Kulo mboten sanggup kalo ​mesti memberitahu”.
“Gus, njenengan sebagai suami yang seharusnya menyampaikannya langsung”.
“Tapi harus memastikan kesehatannya dulu. Sementara dokter petugasnya saja baru besok tiba di tanah air”.
“Tidak usah diberitahu sekarang. Tapi, ajak saja ke sana dan nanti akan tahu setelah di sana”.

Selanjutnya, ​aku  melihat raut wajah ibu yang sumringah. Abi dan bulek bercerita tentang keluarga di Jombang dengan tutur kata yang ​terlihat ​sangat ​ber​hati-hati. Jika sudah mengerucut pada kondisi kesehatan adik ibu yang pertama, bapak, abi dan ​juga ​bule​k​ ​segera ​mengalihknnya pada cerita ​lain. Tentang ritual-ritual dalam ibadah haji​ dan ujian yang harus dijalani.​ Tentang seberapa mudah teori-teori saat ngaji tentang haji. Atau seberapa gampag saat memberikan nasehat tentang sabar dan tawakal kepada Sang Gusti. Atau seberapa sederhana ​ketika membicarakan tentang ​sikap ​yang seharusnya diambil ​saat mendapat cobaan dan ujian dari Sang Kuasa. Tentang mudahnya memberikan gambaran kepada orang lain atas adanya rahasia dan hikmah yang bisa dipelajari dari setiap peristiwa, entah disukai atau tidak. Tentang ​pasrah untuk berserah, dan juga tentang ketabahan untuk keikhlasan atas segala urusan kepada Sang Pemilik K​ehidupan.

Di tengah perbincangan itulah, tiba-tiba bapak menyela​, “Bu, iki aku arep matur. Ibu sing ikhlas lan ​tabah. Dipenggalih atine. Kabeh iki wes diatur lan mugo-mugo awak dhewe iso belajar hikmahe.” Dalam sepersekian menit, tak lebih dari hitungan jari, bapak berhenti sejenak. Suasana hening dan senyap. Tak kudengar ada desah nafas di ruang tamu di pagi itu. Meski aku yakin, ada gemuruh dan gejolak yang nyaris tak terbendung di dalam diri kami masing-masing. “Dik Dloh tilar dunyo malam jumat wingi.

Dengan segala daya, aku saksikan wajah ibu ketika bapak menyelesaikan kata-kata terakhirnya.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,” Aku melihat bibir ibu bergerak, dan sesaat bergetar. Saat itulah, kurasakan ketakutan dan kekhawatiran yang entah sengaja atau tidak telah kami bangun dalam diri kami, mendadak roboh. Luluh lantak dengan cahaya ketabahan dan keikhlasan yang ibu lukiskan dalam raut wajahnya yang teduh. Ya, aku menyaksikannya. Itu bukan raut wajah yang kalah. Bukan pula raut wajah yang terperanjat lalu lepas. Yang kusaksikan adalah wajah kesejatian seorang makhluk yang fana kepada Sang Khaliq yang Baqa. Wajah dengan totalitas dalam pasrah dan berserah kepada Pemilik Kehidupan. Wajah yang kupahatkan kepadanya kesaksian “setabah-tabah perempuan dan seikhlas-ikhlas hamba, aku menyaksikannya dalam diri ibuku…”

Temanggung, 11.10.2015

Advertisements