Hari Santri dan Ayo Mondok

3 December 2015
Kamis, 27 Juni 2015 yang bertepatan dengan 11 Ramadhan 1436 Alumni Ma’had Al Muayyad (KAMAL) Jabodetabek menggelar Haul Syaikh KHA. Umar Abdul Manan bertempat di PP Fatahillah Ciketing Bekasi. Tepat 36 tahun -dalam kalender hijriyah- yang lalu, beliau wafat meninggalkan sebuah institusi pendidikan bernama Pondok Pesantren Al Muayyad di Mangkuyudan Surakarta. Di sinilah para santri yang datang dari berbagai penjuru di Bumi Nusantara ini ngangsu kaweruh. Kemudian, setelah beberapa waktu berlalu, sebagian dari mereka akan ​ada yang ​pulang kembali ke kampung halaman masing-masing. Sebagian yang lain tetap tinggal di pondok untuk mengabdi​ atau ada juga yang melanjutkan jenjang pendidikan ke kota lain.

Selama proses nyantri inilah yang kemudian mampu melahirkan rasa saling memiliki di antara santri satu dengan santri yang lain. Bagaimana tidak, karena para santri ini terbiasa untuk beraktifitas secara bersama-sama di satu tempat yang sama, serta dalam sekian rentang waktu yang sama pula. Mulai dari aktifitas antri mandi selepas bangun di pagi hari, lalu sholat subuh berjamaah dan dilanjut dengan mengaji kepada para guru dan kiai. Begitu juga ketika menikmati sarapan pagi dari menu-menu yang tersaji di sebuah nampan yang kemudian disantap secara bersama pula. Atau ketika bersama-sama mengenyam pendidikan formal dan non-formal sepanjang hari, kemudian dilanjut dengan rutinitas berjamaah di malam hari selepas maghrib dan isya’, semacam ​tahlilan, ​nariyahan, manaqiban, barzanji, dan lain sebagainya. Maka, selepas para santri ini pergi meninggalkan almamaternya –secara fisik–, di manapun mereka berada akan senantiasa terikat dengan almamaternya.

Begitu pula dengan alumni Al Muayyad yang tersebar ke berbagai belahan Bumi Nusantara ini, termasuk yang berdomisili di wilayah Jabodetabek. Dalam beberapa tahun terakhir ini, Haflah Haul KHA Umar Abd Manan pun menjadi salah satu aktifitas rutin tahunan yang sedang dicoba untuk dijaga ke-istiqomahan-nya. Telebih lagi, ketika berulang kali membaca;
           Wasiate Kyai Umar maring kita,
           Mumpung sela ana dunya dha mempengo,
           Mempeng ngaji ilmu nafi’ sangu mati,
           Aja isin aja rikuh kudu ngaji. 
Penggalan wasiat ini telah menjadi salah satu motivator bagi para alumni untuk tetap dan terus akan belajar seperti halnya yang telah mereka lalui ketika menjadi santri. Dan dalam beberapa waktu terakhir ini, penulis membahasakan wasiat tersebut dengan istilah Gerakan Nasional Ayo Mondok-nya RMI-NU.

Di sisi lain, Gerakan Nasional Ayo Mondok ini pun se​makin mengukuhkan bahwa almamater dan alumni ​adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan antara satu dengan yang lain. Keduanya menjadi sebuah fase kehidupan yang mesti dilalui. Keduanya juga menjadi sejarah dan realita kekinian yang harus dihadapi dengan segala dinamikanya.

Proses nyantri selama di pesantren almamaternya ini pada hakikatnya bisa disebut sebagai sebuah gambaran kehidupan tentang bagaimana seorang santri mampu menjadi manusia seutuhnya. Kehidupan santri ketika mondok di almamater pesantrennya bisa juga disebut sebagai rahim kehidupan. Karena selama proses ngangsu kawruh di almamaternya inilah, para santri akan mendapatkan bekal berupa pondasi dan ideologi tentang “kehidupan sesungguhnya”. Sebagai miniatur kehidupan, almamater menjadi subyek utama dalam proses membentuk dan menanamkan bekal tersebut bagi para santrinya. Dengan kata lain, pondok pesantren inilah yang mampu menjadi mesin-mesin produksi dan menghasilkan para alumninya memiliki pondasi dan ideologi –khususnya ideologi keagamaan– yang kokoh, yang memang dipersiapkan untuk menyambut fase kehidupan selanjutnya. Maka, tantangan yang dihadapi oleh almamater dan para santrinya ini adalah sudah seberapa kuat dan siapkah proses pembekalan dari almamater kepada para santri tersebut?

Sedangkan dalam konteks alumni, maka kehidupan yang tengah dihadapinya adalah realita sosial yang bisa juga disebut sebagai laboratorium kehidupan. Artinya, dalam laboratorium ini, para alumni dituntut untuk bisa mengejawantahkan serta menerapkan makna atas pondasi dan ideologi yang telah didapat selama mereka nyantri di almamaternya. Realita sosial ini tentu saja akan lebih memiliki kompleksitas yang barangkali belum pernah didapatkan selama mereka menjadi santri. Meskipun begitu, apapun nama sebuah bangunan, tentu akan sangat dipengaruhi oleh pondasinya. Sehingga, peran para alumni pun akan menjadi subyek utama untuk kembali bernegosiasi tentang bangunan apa yang akan dikembangkan dari pondasi dan ideologi yang sudah ada. Oleh karena itu, tantangan yang kini dihadapi oleh para alumni pesantren adalah seberapa kuat dan kokoh untuk tetap berpijak pada pondasi dan ideologi yang telah mereka dapatkan selama masa-masa nyantri di almamaternya?

Menyaksikan realita baru dengan segala proses dinamika serta perubahan yang serba pragmatis dan instan ini, maka para alumni ini pun dituntut untuk bisa menjawab tantangan-tantangan yang bukan lagi hanya sekadar mempertahankan pondasi dan ideologi tersebut. Dus, tantangan selanjutnya adalah bangunan seperti apa dan bagaimana yang akan dikembangkan untuk menyikapi perubahan-perubahan tersebut? Di sisi lain, apakah generasi-generasi berikutnya dari almamater yang sama juga memang telah dipersiapkan untuk menghadapi perkembangan dan perubahan zaman tersebut?

Diskusi bersama para alumni KAMAL Jabodetabek sesaat seusai haflah haul tersebut, memberikan refleksi bagi penulis, bahwa konsep manusia seutuhnya adalah ketika ia memiliki pondasi dan ideologi tentang hablum minallah dan hablum minannas. Dan para alumni inilah yang memiliki tanggung jawab dalam proses pengejawantahan ideologi hablum minannas sesuai dengan konteksnya dengan tetap berpijak pada pondasi hablum minallah yang telah didapatkan semasa menjadi santri dan mondok di “kawah condrodimuko” almamaternya. Jadi, Selamat Hari Santri dan Ayo Mondok…

Jakarta, 2015

Advertisements