karena cinta ini

25 May 2016
karena cinta ini tak kunjung padam
jangan kau redam dalam sekam
hangatkan dengan tembang di terik siang dan nyanyian di ujung malam
untuk mengeja barisan namanama menyingkap temaram
agar terpahat, menguak rahasia terdalam

usah kau bimbangkan cinta
dalam tingkah yang merambah getir
karena cinta ini tak akan lekang

asuh cintamu selembut fajar
membentang, senyum bertebar

karena cinta ini tak kunjung layu
semailah benihbenih berlanggam syahdu
agar dapat kau rasa di setiap waktu
di antara belantara fatamorgana yang menyulut takut dan ragu
melajulah, dalam kesejatian laku

jamulah cinta yang kau tunggu
karena cinta takkan kenal lelah
menadah doadoa para pecinta yang saling bersahut

majulah bersama para ksatria piningit
atas nama cinta, lampaui langit

karena cinta ini takkan pernah usai


SAJAK KU PADA MU

26 August 2015
sajak ku
menyentuh mu
meraba dalam iba
mendesah
di ujung mu
sajak ku
terikat
mencari
sebaris kata
dalam mata yang tersita
hilang dalam cinta
sajak ku
mengunjungi mu
menjemput asa
di suara mu
yang menderu
yang memburu
seperti batu
sajak ku
terbingkai dan diam
amiin
dalam doa berbias
amiin
dalam tatap berias

Jogja-Jombang, 01-02

Warung Kopi

7 August 2014

Sore hari saat menjelang adzan maghrib, sudah menjadi kebiasaan di kampung ini untuk menunggunya sembari berkumpul dan saling bercengekerama. Entah itu di depan rumah, di warung-warung kopi, di pinggir jalan kampung atau juga di serambi surau. Tua muda, anak-anak orang tua, atau juga laki-laki perempuan. Entah itu bermain atau sekedar bercengkerama. Entah siapa yang memulai tradisi seperti ini, namun yang pasti, suasana tampak begitu familiar.

Aku sendiri pun juga tengah berada di antara mereka. Dengan beberapa orang, kami duduk dan berbincang tentang hal-hal kecil di warung kopi milik Mas Cip. Warungnya memang tidak begitu besar. Mungkin untuk tujuh sampai sembilan orang pengunjung pun tempat itu sudah terlihat penuh. Soal rasanya, jangan ditanya. Karena di kampung ini, warung milik Mas Cip termasuk yang paling enak.

“Kamu kok diam aja dari tadi, Kang. Wajahmu juga kusut gitu. Di rumah ada yang ngambek lagi ya?”

Aku sempat kaget juga dengan pertanyaan yang disodorkan kepadaku. “Nggak kok, Lik. Lagi pengen diam aja,” jawabku memberi alasan.

Di kampung ini, panggilan semacam Kang, Lik, Pak Dhe, ataupun ungkapan-ungkapan familiar lainnya memang sangat kental. Dan itu juga yang mungin bisa memberikan rasa kekeluargaan di antara warganya.

Dua hari yang lalu, aku mendapatkan surat PHK dari majikanku. Entah apa penyebabnya. Dan selama tiga hari itu aku hanya bisa marah-marah terus uring-uringan sepanjang hari. Dalam hati pun aku hanya bisa menggerundel sendirian tanpa tahu kepada siapa aku tujukan gerundelanku.

Dalam diamku, samar-samar aku mendengar suara seorang perempuan dan dua anak kecil dari dalam warung kopi Mas Cip. Semula aku tak begitu memperhatikan suara itu. Apalagi kondisi ku yang sedang labil karena PHK itu.

Tapi tiba-tiba aku tersentak juga mendengar suara perempuan itu.

“Jadi orang itu, jangan lupa sampai untuk selalu bersyukur. Sesakit apapun yang kita rasakan, itu harus disyukuri, Nak.”
“Apakah ibu juga bisa bersyukur ketika dua hari yang lalu banjir melanda sawah kita dan menghanyutkan tiga ekor kambing kita?”

Diam sesaat.

“Kalau tidak mau bersyukur?”
“Jika manusia tidak ada lagi yang bersyukur, Tuhan akan menimpakan siksa. Bumi akan dibelah. Terus Langit juga akan runtuh. Kemudian, manusia yang tinggal di bumi akan dihimpit oleh langit itu. Jadi semuanya hancur berantakan”.
“Lalu bagaimana cara kita bersyukur?”
“Ya, sekarang Kalian harus menghabiskan makanan ini. Kemudian minum dan berdoa. Kalian hapal doa sesudah makan, kan?
Al hamdulillahilladzii ath`amanaa wasaqaanaa waja`alanaa minal muslimiin…

Samar-samar kudengar lantunan doa itu diucapkan oleh anak-anak kecil yang untuk mengucapkan huruf-hurufnya pun masih terdengar cedal.

“Pinteerr. Nah sekarang makan dulu ya? Nanti kalau sudah selesai makan, trus ke kamar mandi. Ambil air wudlu dan siap-siap ke surau untuk sholat…”
“Maghriiib…”
“Berapa raka`at?”
“Tigaa…”

“Sudah Mas. Kopi satu, tahu satu dan rokoknya dua?”

Aku segera menyerahkan dua lembar uang ribuan.

“Sisanya tinggal di sini dulu aja, Mas. Buat besok lagi.”
“Lho mau ke mana tho, Kang?”
“Pulang dulu, Lik. Sudah hampir maghrib nih”

Aku melangkahkan kaki meninggalkan warung kopi Mas Cip. Suara perempuan dan dua anak itu masih jelas terngiang di telingaku. Sesampai di pertigaan kampung, tiba-tiba berkumandang suara dari surau kampung di depan sana yang seolah menarikku. Langkah kakiku hanya bisa bergerak mendekati arah suara itu. Saat tiba di depan surau yang tak begitu besar, ada tetesan air yang membasahi pipiku. Apa yang terjadi, batinku hanya bisa bertanya.


ASA

6 February 2014
mari menyambut hari
dengan bernyanyi bersama
sembari menari beriring
untuk merajut kehidupan…

senandungkan ia;
selaraskan ia;
pintal dlm asa…!


DUA SISI

25 April 2013

Dalam malam temaram, sepasang mata memandang bulan yang hanya mengintip bumi dari balik awan tanpa sudi membuka kelopak matanya terbuka lebar. Kedua bola mata itu tak lagi kuat menahan semilir angin malam yang dingin. Di beranda rumah bercat hijau muda, bibirnya tak mampu bergerak untuk mencoba mengucapkan kata-kata yang bergemuruh di balik dadanya. Meski irama dada yang naik turun hendak meledak. Setiap desahan nafasnya memberikan rangkaian kata-kata yang mencerminkan kegalauan hatinya.

“Cinta telah memberikan kehidupan yang nyata. Walau sejuta bayangan impian tetap mengganyut di otak”. Tiba-tiba rangkaian kata-kata itu keluar dari bibirnya. Tersentak laki-laki itu mendengar ucapannya sendiri. Bagaimana mungkin kata-kata itu bisa keluar begitu saja dari mulutnya, sedangkan pikirannya masih menerawang tentang temaram malam yang melimuti seluruh pori-pori kulitnya.

Terbayang dalam benaknya ketika ia menghabiskan masa mudanya dalam kebimbangan menuju jalan yang sekarang telah mengantarnya menjadi seorang kakek dari cucu-cucunya.

“Harus ini, lain tidak !” itulah kata-kata yang telah merubah segala perjalanan hidupnya saat ia berdiri terpaku di sebuah persimpangan jalan. Yang beberapa saat kemudian, ia hanya menuruti langkah kakinya ke mana akan melangkah. “Kebajikan memang sulit untuk dipaksakan”. Begitulah ia selalu menggerutu. Meski begitu, ia tetap saja menuruti jejak demi jejak yang ditinggalkan oleh telapak kakinya. Dan sesampainya di rumah, bayangan masa lalunya masih saja terngiang. Ia termenung. Terpaku dan bersimpuh.

Di pelataran rumah, aku dan seorang sahabatnya yang telah mengikutinya selama kurang lebih dua puluh tahun tengah menanti kedatangannya. Ia mengajak kami bermain dan menghabiskan waktu untuk mengisi cerahnya udara di senja itu. Permainan yang mengingatkannya pada masa kanak-kanak. Berlarian ke sana ke mari tanpa rasa lelah. Tertawa dan bermain tanpa mengenal waktu dan dan yang hendak di tuju. Bercengkerama tentang indahnya sunset di kaki langit. Waktu malam yang datang pun tak kami hiraukan. Hingga terasa rasa jemu dan kemudian kami pun berbaring di atas pasir. Sang bulan yang tak tak juga datang mengunjungi menambah suasana semakin menggoda untuk memejamkan ketiga pasang mata ini. Sementara kami bertiga terus berbincang tentang alam, kehidupan, masa depan, surga dan tentang apa saja, ibunya masih merajut selendang untuk menyelimutinya. Sebuah selimut yang akan menghangatkan tubuhnya saat ia pulang dan tidur di ranjang di kamarnya. Dengan kesabaran dan kasih sayang seorang ibu, satu persatu dari benang-benang halus itu dipintalnya.

“Aku adalah raja dari dunia ini. Dengan kedua telapak tanganku inilah, aku akan membalikkan dunia. Akan aku buat takdir dunia dalam setiap genggamanku”, ia berteriak dengan disertai urat-urat lehernya yang mengencang. Namun ia tak juga kunjung mengerti tentang dunia yang terus menebarkan cinta di setiap hembusan nafasnya. Sang perempuan yang dicintainya telah meninggalkan, meski hal itu tidak dipercayainya. Segala kenyataan yang telah ia dapatkan pun juga tak dipercayainya. “Aku hanya percaya pada Tuhan,” begitu jawabannya ketika ditanya tentang sebuah peristiwa dalam hidupnya.

“Maukah Engkau menikahiku?” tanya kekasihnya suatu saat. Dan sekali lagi, ia pun tak mempercayai pertanyaan itu. Malah ia kembali bertanya untuk menemukan jawabannya. Itu yang aku dapatkan dari cerita yang ia tuturkan. “Apakah ia mau menjawab pertanyaan balikmu?” Sahabatnya bertanya tapa melepasakan pandangangnya ke arah langit. “Mengapa Engkau bertanya begitu. Apa maksudmu?” Setengah membentak ia bangkit dari pasir tempat ia berbaring. Sedangkan sahabatnya hanya tersenyum melihat seorang temannya mengajak bercanda. Hanya senyum kecil yang menghiasi bibirnya untuk menjawab pertanyaan itu.

Kemudian ia berdiri. Sebentar ia terpaku. Dan secepat angin, ia cengkeram leher baju sahabatnya sembari berteriak tepat di depan wajah sahabatnya. “Apa maksudmu?!”

Sahabatnya tak menjawab. Ia hanya mengikuti kemauan sahabat yang mencengkeram leher bajunya. Kedua pasang mata mereka saling beradu. Aku sendiri tak begitu jelas melihat sorot mata mereka.

Aku hanya terkesima tanpa dapat berbuat sesuatu apapun. “Kali ini ia benar-benar marah,” batinku. Aku heran. Selama ini, ia tak pernah berbuat seperti ini. Dalam kesehariannya, aku pun tahu jika ia tak pernah meluapkan emosinya. Bahkan sepengetahuanku ia adalah seorang lelaki pertama yang pernah kujumpai yang tidak bisa marah. Selalu menghadapi dunia dengan senyum kecil di kedua bibirnya. Selalu kalah dan dikalahkan oleh keadaan namun tetap tegar. Dan mungkin karena itulah, ia disegani oleh orang-orang pernah yang mengenalnya. Termasuk aku yang pernah menjadikan ia sebagai guru, orang tua bahkan idola dalam prinsip-prinsip hidupku.

Sedangkan sekarang, perlahan raut mukanya memerah. Kedua daun telinganya terbakar. Sementara jari-jari tangannya bergetar. Dari pipinya aku melihat sebuah amarah yang mungkin selama ini ia pendam dan hendak dimuntahkan sekaligus saat itu. Sesekali dengus nafasnya tertahan dan suara gemertak giginya berbunyi. Tak kusadari, bulu kuduk di leherku mulai berdiri. Tubuhku bergetar. Butiran keringat dingin di dahiku terkadang membuat aku semakin merinding.

Sahabatnya pun mengalami hal yang sama denganku. Tubuhnya bergetar ketakutan. Namun, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Entah takut atau memang ia tak kuasa untuk dapat mengucapkan, aku sendiri tidak tahu.

“Apakah aku tengah melihat seorang Bima tengah bergejolak ketika ia melihat ibu Kunti dipermalukan di depan matanya ?” aku bertanya dengan ketakutan. Aku bangun dari tempatku berbaring. Dengan perlahan aku mencoba untuk meredakan ketegangan yang sempat terjadi di antar kami.

“Mundur Kau! Ini bukan urusanmu!!”. Ia membentakku. Aku pun tak dapat berbuat apa-apa mendengar bentakan yang melebihi halilintar di teriknya siang hari. Aku hanya mundur beberapa langkah dan menjauh dari mereka berdua, meski kedua mataku masih terus memperhatikan mereka. Karena bagaimanapun juga, keduanya adalah teman-temanku dan aku merasa bertanggung jawab atas persahabatan ini.

Dari tempat aku berdiri, ku tatap keduanya masih berdiri tegang tanpa bergerak. Namun, pemandangan yang aku lihat saat itu bagaikan seekor singa liar yang tengah mencengkeram mangsanya dan siap untuk dilumat habis. Aku masih terpaku dan menunggu.

Selang beberapa jam, ketegangan mulai mereda. Kembali aku dibuat terheran-heran dengan peristiwa yang baru saja terjadi. Tanpa sepatah kata perlahan ia melangkahkan kaki menuju ke arah barat dan meninggalkan kami berdua yang masih berdiri terpaku dengan sejuta pertanyaan yang mungkin tidak dapat kami tuturkan dalam kata-kata. Kini, aku bisa bernafas lega setelah beberapa saat mengalami sebuah keajaiban alam. Di telingaku, sayup-sayup terdengar suara adzan dari satu tempat yang menjadi arah langkah kakinya.

Kaliurang, 1999


Risalah #1

20 May 2012

Kepada :
Seorang yang telah kukatakan cintaku kepadanya

Inilah risalahku yang pertama untukmu. Sebuah risalah yang dengannya aku ingin berbincang tentang aku, engkau, dia, kita, mereka, atau yang lainnya.

Risalah ini sengaja aku berikan kepadamu sebagai sebuah penghormatanku atas segala yang telah, sedang dan akan terjadi dalam sejarah cinta. karena ia-lah yang memberikan udara untuk menyelami paru-paru agar terus menghembuskan nafas dari ketulusan hati. Maka, sebentuk harapan ketika kata-kata telah terangkai menjadi bingkai kehidupan dalam hiasan-hiasan dinding seorang anak manusia ini adalah sebuah isyarat agar sang guru terus mengajarkan ejaan ayat-ayat tentang makna keberadaan hakiki.

Jika risalah ini kukatakan sebagai sebuah risalah yang mengatasnamakan cinta, aku berharap bahwa engkau pun sudi menerima risalah-risalah ini dalam ketulusan cinta. Meski sesekali harus bersitegang dengan para ‘pecundang’ yang mengatakan bahwa tak akan ada ketulusan dalam kehidupan. Karena ketulusan atas apa pun telah tersembunyi rapi dalam bungkus kepentingan. Namun aku mencoba untuk tidak peduli, terlebih jika ada yang mengatakan bahwa cinta hanya menjadi pelarian bagi para sang pecundang. Bukankah air memang tak dapat diketahui kapan akan berhenti?

Sekali lagi, aku mencoba untuk tidak peduli dengan itu semua. Juga kepada siapa cinta akan kau berikan saat risalah-risalah ini aku persembahkan kepadamu. Karena aku yakin, cintaku takkan pernah sama dengan cintamu. Cintamu takkan pernah sama dengan cintanya. Cintanya takkan pernah sama dengan cinta kita. Cinta kita takkan pernah sama dengan cinta mereka. Begitu seterusnya. Lalu mengapa risalah-risalah mu ini Kau tujukan kepada ku? Mungkin begitu pertanyaan yang hinggap di dirimu.

Alasan adalah sebuah keniscayaan bagiku ketika aku melakukan segala sesuatu. Jika tak ada alasan, aku hanya dapat berdiam diri. Pun dalam diamku, toh aku tetap saja harus mempunyai alasan mengapa aku diam, meski hanya sekadar apologi bahwa aku diam dengan alasan karena aku tidak mempunyai alasan. Oleh karena itulah, mengapa risalah-risalah yang aku atasnamakan cinta di dalamnya ini aku berikan kepadamu. Kemudian, jika kau bertanya alasanku mengapa harus kepadamu, itu karena aku yakin bahwa alam telah mengikatku dengan seseorang. Dan dalam ikhtiarku untuk mengetahui kebenarannya, benakku bertanya, “Engkau-kah itu?

Saat mencari jawaban itulah, aku mencoba untuk bermain dengan definisi-definisi seperti aku adalah aku dan engkau adalah engkau. Begitu juga cinta. Cinta adalah cinta. Hingga kemudian aku merasakan dan yakin bahwa ada sesuatu yang selalu menarikku untuk selalu mengikat diriku, dirimu dan juga cinta dalam sebuah ikatan. Namun, percayalah bahwa cinta yang kuutarakan kepadamu ini tak seperti yang aku ungkapkan dalam risalah-risalah ini. Cinta yang tak seperti kata-kata yang kusuntingkan kepadamu. Cinta yang tak seperti puisi-puisi yang kutujukan untukmu dalam rayuan-rayuan gombal dengan mengatasnamakan pujangga cinta. Namun, yakinlah bahwa cinta lebih dari sekadar itu.

Jadi, percayakah kau?

ttd, Yang mencintaimu dari sebuah bilik kamar kecil


Di Ranah Sepi

29 November 2011

Seperti yang kau katakan
Sepi tak terpahamkan oleh kata-kata
Serupa perpisahan yang juga tak berujung
Pada sekian deret waktu tak bertuan
Karena seperti yang aku katakan
Sepi adalah dalam kesendirian
Dan “kesendirian hanya dapat kau rasakan
jika ada yang lain dalam dirimu“*

Tidak. Dan bukan itu.
Bukan sendiri yang membawa angin-angin malam
Bukan sendiri yang berbalas pada sajak-sajak kehidupan
Bukan sendiri yang berkutat dengan kata-kata tak berbatas
Selama rindu masih menyapa, menyela di kanvas sejarah, tak berlabuh
Berlayar dan terus mengarung
Melintas di samudera tak bertepi

Warna-warna kesepian itu tak bertaut pada perpisahan
Sebab sawah dan gunung masih setia bersenandung
Menyanyikan lagu, berirama dalam hidup

Di penat kota metropolitan, pusat peradaban dan perbudakan
Aku belajar menjadi air, bergemiricik
Dan mengalir, membasahi tanah-tanah bundaku
Lalu menguap dan menyentuh awan
Untuk kembali membumi dalam basah dan sejuk
Agar sepi merajut sulaman jiwa
Menembus batas-batas yang berdiri angkuh, berkacak pinggang
Seolah membangun istana kesendirian
Sedang sendiri tak pernah ada

Jakarta, maret 2008