TAKBIRAN 1438 H

25 June 2017
“Kita orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang (kebetulan) tinggal di Indonesia”. Begitulah pesan GusDur. Penjelasan lebih jauh tentang ini, salah satu sahabat terdekat beliau, GusMus sudah sering dan berulangkali memberikan penjelasannya dengan sangat gamblang.

Seiring ingatan saya pada pesan beliau, saya mendapati unggahan di sebuah media sosial yang memberikan ulasan tentang bagaimana “seharusnya” mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri dengan mengemukakan dalil-dalil ketidakabsahannya. Lagi-lagi, saya hanya bisa mendialogkannya dalam sebuah monolog. Salah satunya begini; kalau semua-muanya hanya didasarkan pada dalil-dalil naqli dengan mengesampingkan dalil-dalil aqli dan kontekstualitasnya, kok jadinya muncul pertanyaan (yang sebetulnya tidak membutuhkan jawaban); mau beragama saja kok sulitnya minta ampun seh? Lha bagaimana tidak, kalau mau beribadah (ghoiru mahdloh) saja harus sama persis dengan teks-teks keagamaan tanpa melihat konteks. Kalau tidak ditemukan, muncullah penghakiman bid’ah, haram, dan sesat. Bahkan kemudian, (yang saya tak habis pikir) berani menyerobot hak Tuhan tentang diterima atau ditolaknya nilai sebuah ibadah. Ah, barangkali saya kurang piknik juga kalau terus berpikir seperti ini.

Monolog saya makin berkembang dengan makin banyaknya dialog yang muncul dengan segala ‘ping-pong’nya.  Seiring itu pula, saya makin menikmati sajian dari orang-orang kampung di malam perayaan malam takbiran. Ada parade takbir yang diikuti oleh sekitar 9 kelompok di panggung utama. Masing-masing dari kelompok pun mampu mengharmonisasikannya dengan sholawat dan syiiran jawa, lagu Lir-Ilir, Apuse, Yangko Rambe-Rambe dan sebagainya. Tata busana dengan pernak pernik hasil kreatifitasnya pun -saya anggap- juga mampu melukiskan nilai-nilai lokalitas dan kontekstualitas atas krisisnya nasib budaya beragama di negeri ini. Sementara di depan panggung, suguhan gerak dan tari dengan koreografi yang menyiratkan atas kekayaan dan keragaman ala tradisi-budaya nusantara juga disajikan dengan penuh keramahan.

Saya sempat berandai-andai juga saat itu. Kalau orang-orang bisa belajar dari suasana seperti di kampung kecil saya ini, mungkin tidak akan terjadi politisasi dan peng-atasnama-an agama hanya untuk “sekadar” berebut panggung kekuasaan. Mungkin tidak ada istilah diskriminasi atas kelompok-kelompok (yang disebut dengan) minoritas. Mungkin juga tidak ada orang-orang yang terusir dari kampung halamannya sendiri hanya karena  beda keyakinan. Tidak akan ada ungkapan caci maki dan fitnah yang melahirkan benih kebencian kepada yang lain.

Melihat itu semua, saya kemudian mencoba untuk menerka-nerka saja, bahwa tema malam takbiran kali ini adalah  tolak bala. Tema yang tentu menjadi perhatian bagi orang-orang di kampung kecil saya ini. Tema yang menjadi gambaran, sekaligus doa dan harapan agar yang saya andai-andaikan di atas bisa terwujud. Karena di sini, di kampung kecil ini, semua keragaman dapat diterima, bahkan ada saling puji dan penghargaan di antara keragaman tersebut. Masing-masing mampu menikmati dan memberikan apresiasi di antara perbedaan yang ditunjukkan dengan rasa percaya diri. Para aktor dan apresiator mampu menempatkan diri sesuai dengan posisi dan kapasitas masing-masing. Nah, kalau sudah begini, saya pun akan terus berusaha berada di dalam kerumunan untuk tetap menikmati dan mensyukuri hajat yang tengah berlangsung. Saya ingin berusaha untuk tahu diri dengan kondisi di sekitar saya. Jadi, saya putuskan untuk menyelesaikan dan menutup dialog-dialog dalam monolog saya dengan doa; semoga Nusantara tempat saya tinggal ini akan tetap
berdiri tegak dengan pondasi Pancasila,
membingkai keragaman dalam Bhinneka Tunggal Ika,
hidup damai dan setia dalam NKRI,
berlaku dengan kepatuhan atas UUD 1945.

Malam ini, ketika malam Idul Fitri 1438 H di kampung kecil ini, saya menyaksikan bagaimana pesan GusDur tersebut menjelma menjadi sebuah malam perayaan bagi orang-orang yang tinggal di sebuah kampung kecil yang menjadi bagian kecil dari Bumi Nusantara ini. Saya yakin, hal ini juga tengah berlangsung di banyak kampung di bumi Nusantara ini, pun dalam bentuk yang berbeda dan beragam. Dan sekali lagi saya yakin, bahwa malam di penghujung Ramadhan Mubarak ini telah kembali memberikan kesaksian, bahwa; kita (memang) orang Indonesia yang beragama Islam.

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…
Laa Ilaaha Illallaahu Allahu Akbar…
Allahu Akbar wa Lillahilhamd…

Sebuah kampung kecil di Temanggung,
29 Ramadhan – 1 Syawal 1438 H


Nglencer IdulFitri 1437 H

14 July 2016
1) Oleh2 #nglencer #IdulFitri1437H ini, sowan ke PakLik. “Saya ini dulu ikut Mbah Syansuri jadi tukang pijete dan tukang cuci2nya”

2) Stlh menikah & tinggal d dkt mertua, setiap kali sowan k Mbah Syansuri, beliau hny ngendikan ” seh poso le…” itu brlngsg slm 5 th lbih #IdulFitri1437H

3) Dli rentang 5 th itu, sy pernah ‘ngglidhik’ setiap jm 9-10 mlm k dpur rumah mertua. Brngkali ada mknan sisa yg bs sy bw plg utk mkn dg istri d rmah #IdulFitri1437H

3) Stlh bbrp saat brlalu, suatu mlm sy mnemukan makanan yg sdh siap tersaji di dapur, seolah mertua tahu ke’ngglidhik’an sy dan sengaja menyiapkannya. #IdulFitri1437H

4) Hal itu terulang bbrp mlm. ternyata mertua memang tahu dan segaja menyiapkanny untuk kami. maka sejak saat itu pun saya tidak ngglidhik lagi, meski mertua msh sj selalu menyiapkan mknan setiap malam. #IdulFitri1437H

5) Sampai suatu saat mertua dtg k rmh dan melihat klo tak ada yg bisa kami masak. Mertua bilang; dalam rumah tangga ada 2 yang ga boleh habis, beras dan garam.
#IdulFitri1437H

6) lalu d suatu hari ketika sy sdg sowan k Mbah Syansuri, beliau dawuh, “Le, sptny enak ya klo da lontong” sy pun kluar & mmbelikanny utk beliau #IdulFitri1437H

7) Stlh dhahar lontong, Mbah Syansuri kmbali dawuh. “Sptny enak juga klo da buah2an yg seger2 itu lho, Le”. Sy pun kmbli kluar & mmbeli smngka&melon utk beliau #IdulFitri1437H

8) Slsai sowan, sy pulang. setiba d rmah sy joget2 dg senang. Istri sy heran. sy hny blg ke dia,” Mbah Syansuri dah ga puasa” #IdulFitri1437H

9) Tak lama berselang hari, sy d mnta utk mnggantikan seorang dosen yg mngundurkan diri utk mngajar d sbuah PT d jkt.  #IdulFitri1437H

10) Golek2 dalan wes dilakoni. banjur nemu dalan, tinggal lewati ngnti apal. ananging kudu ttp mlaku ng dalan kang pener #IdulFitri1437H

11) ibarat sarapan, mkn siang & mlm, minum teh, kopi, dan jg mrokok. bisa jd obat ketika itu dilakukan dg benar. #IdulFitri1437H

12) Oleh2 lain dpt dr besan ibu (mertua adik) di Bintaro. Beliau brcerita bnyk ttg kehidupan bliau semasa nyantri di pesantren Krapyak & Mangkuyudan. #IdulFitri1437H

13) Saya dl d Krapyak d kmr E-9. #GusDur d E-7. Selepas dr Krapyak, Kiai Ali mngirim sy & 8 tmn santri lainny k Solo, kuliah d UNU. #IdulFitri1437H

14) Kota Solo itu kota kecil tapi ramai. Bnyk kiai-kiai alim sholeh d sana. Setidakny, ada 29 kiai di daerah Mangkuyudan, Laweyan dan Honggowongso. Blm daerah2 lainny #IdulFitri1437H

15) Kiai yg paling kaya itu Kiai Shafawi. Kiai khosny adlh Kiai Sirodj. Kiai yg intelektual itu Kiai Adnan. Kiai thoriqoh adlh Kiai Ma’ruf. #IdulFitri1437H

16) Di Mangkuyudan sndiri, Kiai yg paling dikenal di masyarakat  itu ada 3; Kiai Umar, Kiai Daris, dan Kiai Ashfari. #IdulFitri1437H

17) Kiai Umar itu kiai yang sangat alim sholeh, tawadhu, loman & resikan, serta wajahnya putih bercahaya. #IdulFitri1437H

 18) Kiai Daris, kalau mjd imam sholat seringkali menangis ketika membaca ayat-ayat Quran. Dan Kiai Ashfari, kiai yang pinter dan sangat cerdas #IdulFitri1437H

19) karena UNU dkt pesantren Mangkuyudan, kami ingin kuliah, sekaligus nyantri ke Kiai Umar, santrinya Mbah Munawwir  Krapyak #IdulFitri1437H

20) Tp Kiai Ali justru “menging” kami utk tdk tinggal d pesantrenny Kiai Umar Mangkuyudan. Sbg santri, knp kami justru di”penging” utk tdk nyantri lagi?” #IdulFitri1437H

21) “Al Muayyad (pada saat) itu  (masih berupa) pesantren kecil. Kalau kalian tnggal d pondok, kalian yg santri krapyak ini akan dianggap pinter. Kalian akan jadi spt katak dlm tempurung”, dawuh Kiai Ali. #IdulFitri1437H

22) Lalu, Kiai Ali sempat mencarikan kontrakan utk kami bersembilan. Bahkan beliau jg yg bayar uang kontrakan tsb. #IdulFitri1437H

23) Di UNU, sy smpt aktif d kegiatan2 kampus. Ketika kmpus mngadakan satu kegiatan, seorg dosen mmberi nasehat utk mnjadikan para kiai pesantren sbg donatur. #IdulFitri1437H

24) Yg sy heran smpai skg itu; Lha para kiai inikan hny mngjar para santri d pesantren, kok ya bisa mmberi donasi yg jmlahny tdk sdikit? trmsuk Kiai Umar ini. #IdulFitri1437H


Hari Santri dan Ayo Mondok

3 December 2015
Kamis, 27 Juni 2015 yang bertepatan dengan 11 Ramadhan 1436 Alumni Ma’had Al Muayyad (KAMAL) Jabodetabek menggelar Haul Syaikh KHA. Umar Abdul Manan bertempat di PP Fatahillah Ciketing Bekasi. Tepat 36 tahun -dalam kalender hijriyah- yang lalu, beliau wafat meninggalkan sebuah institusi pendidikan bernama Pondok Pesantren Al Muayyad di Mangkuyudan Surakarta. Di sinilah para santri yang datang dari berbagai penjuru di Bumi Nusantara ini ngangsu kaweruh. Kemudian, setelah beberapa waktu berlalu, sebagian dari mereka akan ​ada yang ​pulang kembali ke kampung halaman masing-masing. Sebagian yang lain tetap tinggal di pondok untuk mengabdi​ atau ada juga yang melanjutkan jenjang pendidikan ke kota lain.

Selama proses nyantri inilah yang kemudian mampu melahirkan rasa saling memiliki di antara santri satu dengan santri yang lain. Bagaimana tidak, karena para santri ini terbiasa untuk beraktifitas secara bersama-sama di satu tempat yang sama, serta dalam sekian rentang waktu yang sama pula. Mulai dari aktifitas antri mandi selepas bangun di pagi hari, lalu sholat subuh berjamaah dan dilanjut dengan mengaji kepada para guru dan kiai. Begitu juga ketika menikmati sarapan pagi dari menu-menu yang tersaji di sebuah nampan yang kemudian disantap secara bersama pula. Atau ketika bersama-sama mengenyam pendidikan formal dan non-formal sepanjang hari, kemudian dilanjut dengan rutinitas berjamaah di malam hari selepas maghrib dan isya’, semacam ​tahlilan, ​nariyahan, manaqiban, barzanji, dan lain sebagainya. Maka, selepas para santri ini pergi meninggalkan almamaternya –secara fisik–, di manapun mereka berada akan senantiasa terikat dengan almamaternya.

Begitu pula dengan alumni Al Muayyad yang tersebar ke berbagai belahan Bumi Nusantara ini, termasuk yang berdomisili di wilayah Jabodetabek. Dalam beberapa tahun terakhir ini, Haflah Haul KHA Umar Abd Manan pun menjadi salah satu aktifitas rutin tahunan yang sedang dicoba untuk dijaga ke-istiqomahan-nya. Telebih lagi, ketika berulang kali membaca;
           Wasiate Kyai Umar maring kita,
           Mumpung sela ana dunya dha mempengo,
           Mempeng ngaji ilmu nafi’ sangu mati,
           Aja isin aja rikuh kudu ngaji. 
Penggalan wasiat ini telah menjadi salah satu motivator bagi para alumni untuk tetap dan terus akan belajar seperti halnya yang telah mereka lalui ketika menjadi santri. Dan dalam beberapa waktu terakhir ini, penulis membahasakan wasiat tersebut dengan istilah Gerakan Nasional Ayo Mondok-nya RMI-NU.

Di sisi lain, Gerakan Nasional Ayo Mondok ini pun se​makin mengukuhkan bahwa almamater dan alumni ​adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan antara satu dengan yang lain. Keduanya menjadi sebuah fase kehidupan yang mesti dilalui. Keduanya juga menjadi sejarah dan realita kekinian yang harus dihadapi dengan segala dinamikanya.

Proses nyantri selama di pesantren almamaternya ini pada hakikatnya bisa disebut sebagai sebuah gambaran kehidupan tentang bagaimana seorang santri mampu menjadi manusia seutuhnya. Kehidupan santri ketika mondok di almamater pesantrennya bisa juga disebut sebagai rahim kehidupan. Karena selama proses ngangsu kawruh di almamaternya inilah, para santri akan mendapatkan bekal berupa pondasi dan ideologi tentang “kehidupan sesungguhnya”. Sebagai miniatur kehidupan, almamater menjadi subyek utama dalam proses membentuk dan menanamkan bekal tersebut bagi para santrinya. Dengan kata lain, pondok pesantren inilah yang mampu menjadi mesin-mesin produksi dan menghasilkan para alumninya memiliki pondasi dan ideologi –khususnya ideologi keagamaan– yang kokoh, yang memang dipersiapkan untuk menyambut fase kehidupan selanjutnya. Maka, tantangan yang dihadapi oleh almamater dan para santrinya ini adalah sudah seberapa kuat dan siapkah proses pembekalan dari almamater kepada para santri tersebut?

Sedangkan dalam konteks alumni, maka kehidupan yang tengah dihadapinya adalah realita sosial yang bisa juga disebut sebagai laboratorium kehidupan. Artinya, dalam laboratorium ini, para alumni dituntut untuk bisa mengejawantahkan serta menerapkan makna atas pondasi dan ideologi yang telah didapat selama mereka nyantri di almamaternya. Realita sosial ini tentu saja akan lebih memiliki kompleksitas yang barangkali belum pernah didapatkan selama mereka menjadi santri. Meskipun begitu, apapun nama sebuah bangunan, tentu akan sangat dipengaruhi oleh pondasinya. Sehingga, peran para alumni pun akan menjadi subyek utama untuk kembali bernegosiasi tentang bangunan apa yang akan dikembangkan dari pondasi dan ideologi yang sudah ada. Oleh karena itu, tantangan yang kini dihadapi oleh para alumni pesantren adalah seberapa kuat dan kokoh untuk tetap berpijak pada pondasi dan ideologi yang telah mereka dapatkan selama masa-masa nyantri di almamaternya?

Menyaksikan realita baru dengan segala proses dinamika serta perubahan yang serba pragmatis dan instan ini, maka para alumni ini pun dituntut untuk bisa menjawab tantangan-tantangan yang bukan lagi hanya sekadar mempertahankan pondasi dan ideologi tersebut. Dus, tantangan selanjutnya adalah bangunan seperti apa dan bagaimana yang akan dikembangkan untuk menyikapi perubahan-perubahan tersebut? Di sisi lain, apakah generasi-generasi berikutnya dari almamater yang sama juga memang telah dipersiapkan untuk menghadapi perkembangan dan perubahan zaman tersebut?

Diskusi bersama para alumni KAMAL Jabodetabek sesaat seusai haflah haul tersebut, memberikan refleksi bagi penulis, bahwa konsep manusia seutuhnya adalah ketika ia memiliki pondasi dan ideologi tentang hablum minallah dan hablum minannas. Dan para alumni inilah yang memiliki tanggung jawab dalam proses pengejawantahan ideologi hablum minannas sesuai dengan konteksnya dengan tetap berpijak pada pondasi hablum minallah yang telah didapatkan semasa menjadi santri dan mondok di “kawah condrodimuko” almamaternya. Jadi, Selamat Hari Santri dan Ayo Mondok…

Jakarta, 2015


Poncosilo lan Syarengat Limo

8 November 2014
Dua hari yang lalu, saya menemani anak saya yang tengah mempersiapkan formatif (ulangan) harian. Kebetulan temanya tentang Pancasila. Saya jadi teringat ketika di akhir Bulan Oktober yang lalu, saya berkesempatan bergabung di #PeaceLeadersCamp yang diselenggarakan oleh @AMANIndonesia dan @Search4CommonGround. Salah satu sesinya adalah kunjungan ke beberapa komunitas untuk belajar tentang bagaimana menjaga keberlanjutan dan kemandirian sebuah organisasi berbasis komunitas. Dan saya, juga beberapa teman lainnya berkesempatan untuk mengunjungi #Komunitas5Gunung. Lalu apa kaitannya dengan #Pancasila?
Bapak Taufik, salah satu sesepuh #Komunitas5Gunung menjawab pertanyaan “mengapa 5 gunung?” Dengan gaya guyonannya, “ya… karena enak aja kalau lima. Poncosilo, Pandowo-Limo, syarengat limo, rukun Islam ono limo,…” 
Secara pribadi, saya kemudian tertarik dengan pasangan kata Poncosilo dan Syarengat Limo. Dari sinilah, kemudian saya bertambah yakin kalau Pancasila itu memang sesuai dengan syariat Islam, meskipun kalimat “dan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya” telah dihapus dari Piagam Jakarta, yang kemudian menjelma menjadi Pancasila. Mengapa sesuai dengan syariat Islam, ya… karena saya beragama Islam. 
Pancasila dilahirkan oleh para pendahulu untuk menjadi dasar bagi manusia Indonesia dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Begitu juga dengan syariat Islam yang dibangun dan dimaksudkan untuk menjadi dasar bagi kehidupan manusia; kehambaan dan kemanusiaannya (maqooshid asy-syariah). Sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila adalah hifdhu ad-din (memelihara agama) maqooshid asy-syariah. Keduanya berbicara tentang tauhid (teologi) yang menjadi pondasi dasar dalam kehidupan manusia. Dalam bahasa lain, bisa diungkapkan dengan hubungan vertikal atau hablum minallah-nya. 
Sedangkan hubungan horisontal atau hablum minannas, Pancasila menyebutkannya dengan sila kedua; Kemanusiaan yang adil dan beradab. Maqooshid asy-syariah-nya menggunakan istilah ini dengan hifdhu an-nafs (memelihara nyawa). Selanjutnya, hifdhu an-nafs juga bisa dipandang dalam konteks manusia secara personal. Karena secara sosial, Pancasila menyebutnya dengan Persatuan Indonesia, yang merangkai hubungan inter-personal warganya demi kesatuan dan keutuhan bangsa. Dan salah satu faktor penting yang digunakan sebagai pijakan dalam hubungan inter-personal ini adalah perspektif (hifdu al aql/memelihara akal) kebangsaannya. 
Pertanyaan selanjutnya adalah; bagaimana membangun perspektif (pola pikir) kebangsaan ini? Tentu dengan bil-hikmah wal-mau’idhoh al-hasanah. Dan Pancasila mensyaratkan hal ini dengan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Kata yang digunakan untuk mengawali konsep hikmah kebijaksanaan ini adalah kerakyatan, yang dalam konteks berbangsa dan bernegara, kerakyatan adalah salah satu faktor yang bisa melintasi ruang dan waktu. Atau dengan kata lain; keberlanjutan dari generasi satu ke generasi selanjutnya; hifdhu an-nasab (memelihara keturunan) dalam bahasa maqooshid asy-syariah-nya.
Dari keberlanjutan yang mampu melintasi dimensi ruang dan waktu inilah, maka mobilisasi dan pengelolaan sumberdaya (hifdhu al-maal/memelihara harta) menjadi unsur terpenting dalam membangun Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Relativitas Benar dan Salah…

14 April 2014
1) benar dan salah itu relatif, YA! sdgkan kebenaran & kesalahan hakiki adalah hal yg tdk bisa dipertanyakan lgi.

2) bs jd, kita akan dlm posisi salah mnrt org lain, pun kita yakin dlm posisi benar. ato sbalikny. inilah relativitas benar & salah tsb

3) dlm konteks agama d Indonesia; Islam itu benar mnrt muslim. Kristen itu benar mnrt kristiani. Buddha itu benar mnrt buddhis, dst…

4) dlm knteks Islam; Sunny itu benar mnrt org sunny. Syiah itu benar mnrt org syiah. Ahmadiyah itu benar mnrt org ahmadiyah, dst…

5) bgt jg dlm Kristen.ada katolik & protestan. juga ada theravada, mahayana dan tantrayana dlm Buddha. smua bnar mnrt pengikutny msing2

6) inilah perbedaan umat yg mjd rahmat itu. krn rahmat itu bisa dinikmati oleh sluruh umat yg berbeda2,tnpa mlhat status keagamaanny.

7) mngp bisa utk smua? krn rahmat itu sndiri mngndung unsur kebenaran, kebaikan & keindahan.

8) benar; adalah ber-iman. jadi kalo kita percaya ttg ssuatu, itu krn kbenaranny tlah kita yakini.

9) baik; adalah ber-islam. setingkt lbih tinggi dr benar, krn ia sdh pd level implementatif dan mmpu mmbri mnfaat kpd org lain.

10) indah; adalah ber-ihsan.thap ini mmiliki nilai lbih dg adany muatan kontekstualisasiny,mpan papan & bs m’bebaskn diri dr kedhaliman

11) mk, mngingkari prbedaan bs jd mngingkari 3 hal tsb, sklgus melawan rahmat itu sndiri. (bkankah) jelas2 rahmatan (itu) lil’alamin?

12) term mengingkari itu krn brada dlm posisi & melihat dg perspektif yg brbeda, tdk mau secara utuh & mnyeluruh, menafikan relativitas

13) lalu bgmn posisi org yg memosisikan org lain dlm posisi yg berbeda dgny? Berbeda boleh. Tp pengingkaran adlh hal yg lain…

source: http://chirpstory.com/li/199537 by @mazfans


MAAF untuk KASIH SAYANG

20 May 2012

“Maaf Mpok Oneng, saya mau tanya.”
“Maaf Bang Juri, saya hanya mau mengembalikan ini.”

Dua penggal kalimat mengingatkan kita pada seorang tokoh dalam sebuah tayangan komedi situasi yang disiarkan oleh sebuah stasiun TV beberapa tahun lalu. Ya, berkali-kali si tokoh tersebut selalu saja menggunakan kata “maaf” dalam dialognya. Mpok Minah, itulah nama tokoh tersebut. Pengulangan kata “maaf”-nya yang telah menginternalisasi dalam dirinya, tersuratkan dari mimik mukanya. Ia selalu terlihat selalu cemas dalam mengawali dialognya. Begitu pula dengan tekstur tubuhnya yang menggambarkan rasa kehati-hatiannya saat menjalin komunikasi dengan orang lain, karena khawatir kata-katanya akan menyinggung atau menyakiti lawan bicaranya.

Ironisnya, tayangan yang oleh sang penulis skenario dimaksudkan untuk menjadi sebuah tayangan komedi tuntunan yang mendidik ini kerapkali dianggap sebagai tayangan hiburan un sich. Termasuk tokoh Mpok Minah, figur yang kaya akan permintaan maaf, bahkan sebelum diminta oleh orang lain. Maka, yang terjadi adalah permintaan maaf yang berkali-kali diucapkan oleh Mpok Minah pun dianggap hanya sebuah guyonan belaka. Dari sinilah, salah satu hal penting yang kemudian dapat menjadi bahan renungan adalah; apakah ketika seseorang mengajukan permintaan maafnya “hanya” karena kesalahan atau kekeliruan yang telah ia lakukan? Bagaimana dengan permintaan maaf karena khawatir karena kesalahan atau kekeliruan yang mungkin saja bisa mengakibatkan orang lain merasa tersinggung, bahkan tersakiti?

Dari dua pertanyaan tersebut, kiranya pertanyaan pertamalah yang seringkali menjadi justifikasi untuk menyaratkan adanya permintaan maaf. Dengan kata lain, permintaan maaf seringkali dianggap sebagai reaksi yang harus dilakukan saat aksi kesalahan telah dilakukannya. Sehingga, secara tidak langsung permintaan maaf pun digunakan sebagai salah satu indikator untuk menyatakan seseroang telah melakukan kesalahan atau tidak. Coba saja simak ungkapan “karena kau yang melakukan, jadi kau yang harus minta maaf.”

Di sisi lain, orang yang dimintai maaf pun acapkali juga dibimbangkan dengan berbagai akibat yang telah diterimanya. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki sifat dasar untuk saling menghargai, saling membutuhkan, dan saling menolong antara yang satu dengan yang lain. Sehingga, ketika nilai-nilai tersebut telah terluka, maka kekuatan untuk bisa memberikan maaf akibat luka tersebut pun turut melemah. Di sinilah kekuatan spiritual (baca; religiusitas) menjadi salah satu benteng pertahanan untuk tetap mampu mengendalikan emosional seseorang.

Mengapa spiritual?
Dalam menjalani aktifitas kehidupan kesehariannya, manusia akan selalu terikat pada beberapa aspek. Selain aspek sosial seperti di atas, manusia sebagai individu tentu memiliki kapasitasnya masing-masing, yang salah satu faktor penguatnya adalah nilai-nilai spiritualitas tersebut. Secara keagamaan, banyak pelajaran dan hikmah yang seharusnya mampu digunakan sebagai pijakan tentang bagaimana sikap kebesaran hati bisa diwujudkan dengan memberi maaf, bahkan sebelum diminta.

Salah satu pelajaran mendasar tentang maaf tersebut dapat disimak dalam QS. Al Imron (3) ayat 33-34, yang artinya kurang lebih adalah “Dan bersegeralah kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (yakni) orang-orang yang menginfaqkan (hartanya di jalan Allah) dalam kesempatan atau kesempitan, dan mampu menahan amarah, serta meraka yang memberi maaf kepada manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Di awal ayat tersebut, perintah meminta maaf didasarkan pada sifat Tuhan yang maha pemberi ampun. Maka, manusia yang mampu menjelmakan sifat-sifat Tuhan dalam kehidupannya pun akan mendapatkan balasan yang sangat besar di sisi-Nya. Sedangkan di akhir ayat, pelajaran ini menyebutkan tentang kebaikan, yang dalam konsep agama, khususnya Islam, sebuah kebaikan adalah nilai kelipatan yang akan terus berlipat ganda. Baik secara kuantitas ataupun kualitasnya.

Memberi maaf disebut sebagai kebaikan, karena ia mengandung nilai-nilai kebaikan lainnya. Dengan kata lain, orang yang mempu memberi maaf kepada orang lain, setidaknya ia telah menanamkan nilai percaya, sekaligus menghargai dan saling menolong. Percaya; karena permohonan maaf (baca: taubat) yang sebenarnya adalah implementasi sikap untuk tidak lagi mengulangi “kesalahan” di masa-masa selanjutnya. Atau dengan bahasa logika bisa dikatakan, seseorang akan mampu, atau bahkan memberikan maaf kepada seseorang sebelum dipinta jika ia telah memiliki kepercayaan dan keyakinan bahwa orang seseorang tersebut tidak akan mengulanginya lagi di waktu mendatang.

Di saat yang bersamaan, kepercayaan yang diwujudkan dalam nilai maaf ini pun menjadi salah satu modal utama untuk bisa membantu dan menolong orang lain agar bisa menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Siapapun orangnya, tentu akan merasa lebih nyaman dan dihargai saat ia mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Inilah dasar filosofi budaya Jawa yang mengatakan nguwongke wong.

Sedangkan nilai untuk menghargai orang lain yang terepresentasikan dalam nilai maaf ini adalah kemampuan seseorang untuk menerima perbedaan. Bisa jadi saat ia tersakiti oleh orang lain, sementara orang yang menyakitinya tidak merasa bahwa ternyata ia menyakiti orang lain. Artinya, bisa jadi orang lain akan menganggap sesuatu yang dilakukannya adalah sebuah kebenaran. Sementara orang lain bisa juga menganggapnya sebagai sebuah kesalahan. Menghargai perbedaan inilah yang kemudian menjelma menjadi salah satu cabang dari pohon maaf tersebut.

Menyadari kemampuan untuk memberikan maaf dengan sendirinya akan mengukuhkan nilai-nilai kemanusiaan seseorang. Tiga nilai manusia sebagai makhluk sosial di atas yang ditopang dengan nilai-nilai spiritualitas (baca: religiusitas) inilah yang kemudian mampu melahirkan nilai-nilai kasih sayang antar sesama.

Tentang kasih sayang ini, hal mendasar yang barangkali juga perlu direnungkan kembali adalah pelajaran peribahasa “tak kenal maka tak sayang”. Yang menjadi pertanyaannya adalah tak kenal seperti apakah yang tak berhak mendapatkan kasih sayang. Padahal, jika kita kembali berpijak pada nilai-nilai spiritualitas, khususnya Islam, maka peribahasa ini pun perlu dipertanyakan kembali. Karena Islam datang untuk umat manusia dilandaskan pada ungkapan “rahmatan lil ‘alamiin” yang berarti kasih sayang untuk seluruh alam semesta.

Catatan untuk “Buddhist-Muslim YouthCamp”, Jogjakarta, 2012


MASYARAKAT DAN AGAMA

30 March 2012

Tatanan-tatanan yang dibangun dalam kerangka sosialisasi sebuah masyarakat adalah dengan suatu sistem yang berkaitan dengan interaksi sejumlah peranan komponen-komponen dalam sebuah kultur budaya tertentu. Dan akan sangat sulit untuk mengatakan bahwa salah satu aspek tertentu, agama misalnya, dianggap memiliki peranan dan respon yang paling berpengaruh. Karena pada dasarnya proses perkembangan peradaban yang berlangsung dalam sistem sosial adalah sangat kompleks. Oleh karena itu, dalam menghadapi proses peradaban tersebut mewujudkan eksistensi manusia seutuhnya. Yang dalam Islam hal tersebut dilandasi oleh pemikiran-pemikiran tentang tauhid, rububiyah, khilafah dan tazkiyah.  Dan dalam proses perubahan tersebut, pembidangan-pembidangan institusi semacam inilah yang ditempati oleh agama sebagai salah satu kepercayaan yang nilai-nilai dan praktek-praktek keagamaannya memiliki pengaruh langsung terhadap tingkah laku sosial masyarakat.

Berbagai pertimbangan untuk kembali menekankan prinsip-prinsip dasar tersebut disebabkan karena al-Qur’an sebagai sumber konstitusi Islam tertinggi masih memiliki kerumitan dari berbagai isi, fungsi, tujuan dan beberapa kejadian-kejadian yang disebut di dalamnya. Sehingga dengan kerumitan-kerumitan inilah sebuah peradaban akan berjalan sesuai dengan kondisi kultur dan budaya yang berlaku, yang tidak dapat dijamin ke mana arah dan tujuannya. Dengan demikian, nilai-nilai kemanusiaan yang diberikan Nabi saw pada saat menjelang akhir dari masa risalahnya bertujuan untuk memberikan standar asasi dari pembentukan sebuah masyarakat islami. Tanpa terlepas dari kebebasan sebagai pengelola bumi sebagaimana firman Allah : (QS. al Baqarah (2) : 30).

Dalam pengelolaan peradaban tersebut, manusia memiliki sikap untuk selalu berintegrasi dengan problematika-problematika sosial yang nyata. Sehingga pada taraf proses pembentukan sebuah peradaban yang layak disebut sebagai peradaban islami, nilai-nilai keagamaan tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Oleh karena itu dengan basis ketakwaan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk solidaritas kemanusiaan permasalahan-permasalahan yang berhubungan langsung dengan sosial kemasyarakatan ini dapat dibaca dan difahami. Sedangkan dengan kearifan Tuhan, manusia akan dapat memahami dan mengontrol peradabannya.

Sejalan dengan berbagai fenomena yang berkembang sebagaimana tersebut di atas, dapat dikatakn kembali bahwa corak dan visi keagamaan yang seharusnya berlaku dalam sebuah masyarakat adalah bahwa agama tidak hanya bersemangat membangun sebuah istana di akherat, melainkan dapat difungiskan sebagai motivator dalam proses pembebasan dan penyelamatan. Baik individu maupun sosial, di dunia dan akherat.

Sehubungan dengan cara pandang seperti ini, jarak antara agama dan berbagai  permasalahan yang terjadi dalam sebuah masyarakat haruslah tetap dijaga dan dipertahankan. Sebab sebuah masyarakat akan terus berkembang menjadi peradaban modern yang dapat melahirkan kemungkinan-kemungkinan untuk terjebak dalam persaingan struktur antar kepentingan.