DOA SANG MUSAFIR

15 July 2017

ربى اغفرلى ولوالدي ولمن دخل بيتي مؤمنا وللمؤمنين والمؤمنات ولا تزد الظلمين إلا تبارا
ربنا هب لنا من أزواجنا و ذرياتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما 
Berharap perjalanan ini

menjadi sarana untuk mendapatkan status sebagai anak yang berbakti kepada orang tua. 

menjadi ujian untuk berpredikat sebagai suami yang berpartner dengan istri,

menjadi pembelajaran agar bertitle sebagai orang tua yang memberi tauladan kepada anak-anak

menjadi amal yang berlandas ilmu sebagai santri yang ta’dzim kepada sang kiai

menjadi pertemuan yang saling menganyam sebagai saudara yang menjalin silaturahmi dengan sesama

menjadi doa-doa yang senantiasa teruntai sebagai hamba yang mampu bersyukur kepada Sang Tuhan

فتبسم ضاحكا من قولها وقال رب أوزعنى أن أشكر نعمتك التى أنعمت علي وعلى والدي وأن أعمل صالحا ترضاه وأدخلنى برحمتك فى عبادك الصالحين

Jakarta-Jogjakarta-Jombang, 15 Juli 2017


SOWAN LEBARAN 1438 H

1 July 2017

Silaturahmi Lebaran 1438 H kali ini, bercengkerama dengan kakak dan adik sampai lewat tengah malam. Lupa dengan lelah setelah perjalanan Temanggung-Pati. Lalu siangnya, mengenalkan anak-anak tentang tradisi ziarah ke makam para Waliyullah. Setelah tiga hari yang lalu ziarah ke mBah KH Chudlori Tegalrejo, kini pilihan selanjutnya ke mBah Mutamakin, makam terdekat dari rumah kakak yang di Tayu, Pati. Rencana selanjutnya ke makam Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Tapi, tawaran adik untuk sowan bareng ke Gus Mus, ternyata membuat arah perjalanan pindah haluan. Alhamdulillah, bisa sowan walau sejenak dan ‘ngepasi’ haul satu tahun wafatnya Ibu Nyai Fatma. Selain berkat, dapat doa keberkahan pula dari beliau. Ini juga ingin mengenalkan kepada anak-anak tentang tradisi dunia pesantren dan kyainya. Dua tahun lagi, si anak mbarep ingin menjadi seorang santri. 

Saat sowan ke Gus Mus, ada beberapa anggota Banser yang juga ikutan sowan. 

“Yah, emang mereka bener-bener tentara asli ya?” tanya anakku yang kedua. 

“Mereka itu Banser,” jawabku

“Emang Banser itu apaan?” 

“Banser itu Bantuan Serbaguna. Tentaranya NU. Yang menjaga Indonesia.”

“Emang yang di sini, NU semua ya?”

“Iya.”

“Kalau ayah?”

“Iya lah. Eyang juga. Mbah kakung juga. Pakdhe, budhe, om, tante. Semuanya NU.”

“Kenapa?”

Senyap sejenak. 

“Karena ayah orang Indonesia. Jadi ayah, eyang, mbah jadi makmumnya kyai-kyai.”

“Asa juga NU ah.”

“Siiippp…” sembari kuberikan dua jempol.

“Sekarang, kita foto bareng sama mbahnya tante, yuk.”

Kami pun masuk ke ruang dalam untuk berpose, sekaligus berpamitan dan minta doa pangestunya. 

“Meniko ingkang mbajeng tabarukan asmo dateng panjenengan, Gus.”

Lalu… klik, klik, klik. Dan perjalanan pun berlanjut ke Kota Wali, Kudus dan Demak. 

Temanggung, Demak, Kudus, Pati dan Rembang, Lebaran 1438 H


TAKBIRAN 1438 H

25 June 2017
“Kita orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang (kebetulan) tinggal di Indonesia”. Begitulah pesan GusDur. Penjelasan lebih jauh tentang ini, salah satu sahabat terdekat beliau, GusMus sudah sering dan berulangkali memberikan penjelasannya dengan sangat gamblang.

Seiring ingatan saya pada pesan beliau, saya mendapati unggahan di sebuah media sosial yang memberikan ulasan tentang bagaimana “seharusnya” mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri dengan mengemukakan dalil-dalil ketidakabsahannya. Lagi-lagi, saya hanya bisa mendialogkannya dalam sebuah monolog. Salah satunya begini; kalau semua-muanya hanya didasarkan pada dalil-dalil naqli dengan mengesampingkan dalil-dalil aqli dan kontekstualitasnya, kok jadinya muncul pertanyaan (yang sebetulnya tidak membutuhkan jawaban); mau beragama saja kok sulitnya minta ampun seh? Lha bagaimana tidak, kalau mau beribadah (ghoiru mahdloh) saja harus sama persis dengan teks-teks keagamaan tanpa melihat konteks. Kalau tidak ditemukan, muncullah penghakiman bid’ah, haram, dan sesat. Bahkan kemudian, (yang saya tak habis pikir) berani menyerobot hak Tuhan tentang diterima atau ditolaknya nilai sebuah ibadah. Ah, barangkali saya kurang piknik juga kalau terus berpikir seperti ini.

Monolog saya makin berkembang dengan makin banyaknya dialog yang muncul dengan segala ‘ping-pong’nya.  Seiring itu pula, saya makin menikmati sajian dari orang-orang kampung di malam perayaan malam takbiran. Ada parade takbir yang diikuti oleh sekitar 9 kelompok di panggung utama. Masing-masing dari kelompok pun mampu mengharmonisasikannya dengan sholawat dan syiiran jawa, lagu Lir-Ilir, Apuse, Yangko Rambe-Rambe dan sebagainya. Tata busana dengan pernak pernik hasil kreatifitasnya pun -saya anggap- juga mampu melukiskan nilai-nilai lokalitas dan kontekstualitas atas krisisnya nasib budaya beragama di negeri ini. Sementara di depan panggung, suguhan gerak dan tari dengan koreografi yang menyiratkan atas kekayaan dan keragaman ala tradisi-budaya nusantara juga disajikan dengan penuh keramahan.

Saya sempat berandai-andai juga saat itu. Kalau orang-orang bisa belajar dari suasana seperti di kampung kecil saya ini, mungkin tidak akan terjadi politisasi dan peng-atasnama-an agama hanya untuk “sekadar” berebut panggung kekuasaan. Mungkin tidak ada istilah diskriminasi atas kelompok-kelompok (yang disebut dengan) minoritas. Mungkin juga tidak ada orang-orang yang terusir dari kampung halamannya sendiri hanya karena  beda keyakinan. Tidak akan ada ungkapan caci maki dan fitnah yang melahirkan benih kebencian kepada yang lain.

Melihat itu semua, saya kemudian mencoba untuk menerka-nerka saja, bahwa tema malam takbiran kali ini adalah  tolak bala. Tema yang tentu menjadi perhatian bagi orang-orang di kampung kecil saya ini. Tema yang menjadi gambaran, sekaligus doa dan harapan agar yang saya andai-andaikan di atas bisa terwujud. Karena di sini, di kampung kecil ini, semua keragaman dapat diterima, bahkan ada saling puji dan penghargaan di antara keragaman tersebut. Masing-masing mampu menikmati dan memberikan apresiasi di antara perbedaan yang ditunjukkan dengan rasa percaya diri. Para aktor dan apresiator mampu menempatkan diri sesuai dengan posisi dan kapasitas masing-masing. Nah, kalau sudah begini, saya pun akan terus berusaha berada di dalam kerumunan untuk tetap menikmati dan mensyukuri hajat yang tengah berlangsung. Saya ingin berusaha untuk tahu diri dengan kondisi di sekitar saya. Jadi, saya putuskan untuk menyelesaikan dan menutup dialog-dialog dalam monolog saya dengan doa; semoga Nusantara tempat saya tinggal ini akan tetap
berdiri tegak dengan pondasi Pancasila,
membingkai keragaman dalam Bhinneka Tunggal Ika,
hidup damai dan setia dalam NKRI,
berlaku dengan kepatuhan atas UUD 1945.

Malam ini, ketika malam Idul Fitri 1438 H di kampung kecil ini, saya menyaksikan bagaimana pesan GusDur tersebut menjelma menjadi sebuah malam perayaan bagi orang-orang yang tinggal di sebuah kampung kecil yang menjadi bagian kecil dari Bumi Nusantara ini. Saya yakin, hal ini juga tengah berlangsung di banyak kampung di bumi Nusantara ini, pun dalam bentuk yang berbeda dan beragam. Dan sekali lagi saya yakin, bahwa malam di penghujung Ramadhan Mubarak ini telah kembali memberikan kesaksian, bahwa; kita (memang) orang Indonesia yang beragama Islam.

Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar…
Laa Ilaaha Illallaahu Allahu Akbar…
Allahu Akbar wa Lillahilhamd…

Sebuah kampung kecil di Temanggung,
29 Ramadhan – 1 Syawal 1438 H


Dari Tanah Kembali ke Tanah

15 January 2017
Dari tanah kembali ke tanah
Tempat berdiri, ke mana pun bisa berlari
Tempat berpijak, bagaimana pun cara bergerak

Dari dalam rahim kedalamanmu
Melahirkan alam yang tinggi menjulang
Menimang sumber kehidupan untuk mengalir
Memanggul cakrawala yang terbentang
Menopang segala peristiwa

Dari tanah kembali ke tanah
Berani memberi, berani menerima
Bertanggungjawab atas sebab akibat
Membuka ruang, menutup sekat

Dari tanah kembali ke tanah
Tunggu aku dalam ramah

Bogor, 15.01.2017


ketika

27 September 2016
ketika kau ragukan ibadahku, apakah kau sdg butuh untuk dipercaya atas perbuatan yang kau lakukan?

bagaimana jika sebaliknya? semoga tidak. karena selain yg kau percaya, belum tentu ragu

ketika kau bicarakan kekuranganku, apakah kau sedang ingin memamerkan kelebihanmu kepadaku?

bagaimana jika sebaliknya? semoga tidak. karena selain yg kau anggap lebih, belum tentu kurang

ketika kau hinakan amaliahku, apakah kau sedang memuliakan doa-doa yang kau pamerkan kepadaku?

bagaimana jika sebaliknya? semoga tidak. karena selain yg kau anggap mulia, belum tentu hina

ketika kau salahkan sikapku, apakah kau sdg butuh kesaksian dariku tentang kebenaran tingkah lakumu?

bagaimana jika sebaliknya? semoga tidak. karena selain yg kau anggap benar, belum tentu salah

ketika kau sesatkan jalanku, apakah kau sedang ingin menunjukkan kepadaku tentang jalan lurus?

bagaimana jika sebaliknya? semoga tidak. karena selain jalan lurus yg kau tunjukkan, belum tentu sesat

ketika kau ingkari keimananku, apakah kau sedang memaksaku untuk mengamini keyakinanmu?

bagaimana kalau sebaliknya? semoga tidak. karena selain yang kau yakini, belum tentu ingkar


28 Mei 2016, 05:30 WIB

29 May 2016
terimakasih cinta
separuh kehidupan dan setengah kematian
telah mengabarkan
bahwa cinta dan kasih sayang
tak hanya untaian syairsyair cinta
yang meronakan wajah para pecinta
erang yang berujung lengking panjang
keluh dengan berbasuh peluh
jerit menderit saat terikat sakit
adalah pahatan cinta tanpa fatamorgana
untuk mengawali kehidupan dalam mengukir kasih sayang

terimakasih sayang
pelajaran cinta yang telah diajarkan
bukan tentang hitungan berapa atau yang kesekian kali
tak lagi terungkap dari para pujangga cinta
karena rumus infinity yang tak terhingga itu
beriring dengan rasa agar tetap bernyanyi dalam hening
berpegang pada belaian mesra sang kekasih agar tetap melenggang
berhias kesetiaan untuk meramu cahaya dan bias
sebagai bekal ketika kehidupan harus tetap diseimbangkan
agar kesejatian bisa terpancar dari cinta dan kasih sayang kepada sesama

terimakasih cinta
terimakasih sayang
tawa itu telah mengembang pesona
tangis itu pun telah berbuah bahagia


Ikhlas

19 October 2015

​Kamis Kliwon, Jumat Legi, Sabtu Pahing… Mugi tansah pinaringan husnul khatimah…
Allah lebih sayang kpd hambaNya… belum genap 1 tahun bulik no.6, belum cukup 40 hr mbah putri, kini Engkau panggil bulik kami yg no. 3… 
Mohon tambahkan keikhlasan pada kami, ya Allah…
(Status dan komentar di laman facebook adik, 9 Oktober 2015, 08:31)

Kini, aku belajar tentang keikhlasan itu dari beliau. Ujian bertubi yang –semoga menjadi ungkapan dan bentuk atas kasih sayang dan cinta-Nya– kepada beliau, sangat jauh dari kekhawatiran dan ketakutan yang kami bangun dalam kerapuhan dan kelemahan kami.

Di hari Jumat, ibu menjenguk nenek kami yang tengah dirawat di rumah sakit Jombang. Lalu di hari yang sama, pulang ke Temanggung karena hari Ahad sorenya harus berangkat dari Temanggung menuju ke Embarkasi Donohudan Solo, untuk selanjutnya terbang ke Jeddah dan melaksanakan ibadah haji. Tak lebih dari satu minggu, tepatnya di Hari Rabu, ibu mendapatkan kabar duka, nenek kami tercinta meninggal, menghadap ke hadirat Ilahi Robbi.

Kesedihan seperti ini tidak jauh berbeda dengan yang kami rasakan sekitar 9 tahun ang lalu. Saat itu, aku dan istriku berpamitan kepada bapak kami (bapak mertuaku) di awal-awal kami hijrah untuk memulai hidup di kota Jakarta. Dua hari setiba kami di Jakarta, istriku mendapatkan kabar duka, bapak kami tercinta meninggal, menghadap ke hadirat Ilahi Robbi. Jarak Jakarta-Temanggung masih memungkinkan untuk kami tempuh. Kurang dari 24 jam, kami langsung bisa berdoa di depan pusara bapak. Tapi ibu, hanya bisa berdoa dari Tanah suci, dan mesti menunggu sekitar 40 hari lagi untuk bisa berdoa di depan pusara nenek kami tercinta.

Tanggal 9 Dzulhijah pukul 20.30 wib, ketika aku tengah berada di halaman masjid bersama para tetangga dalam rangka persiapan pelaksanaan ibadah qurban untuk esok hari, ibu menelponku. “Mumpung taseh asar teng arafah niki… Ibu ndungo, sampean sak anak bojo ngamini“. Ibu memintaku berkumpul bersama istri dan anak-anakku untuk mengamini doa khotmil quran yang ibu panjatkan di Padang Arafah. Tak kuasa, luluh juga air mata ini ketika beliau mengkhususkan salah satu doanya untuk nenek kami.

Beberapa hari menjelang kepulangan ibu, tepatnya ketika terjadi Tragedi Mina, kami, keluarga di Indonesia mendapat kabar; ibu mendapat ujian dari-Nya dan harus dirawat di rumah sakit Mina. Semua teman, kerabat atau siapapun yang kami rasa punya informasi valid tentang tragedi itu kami kontak. Kami terus mencari update tentang korban tragedi itu. Dan alhamdulillah, kami tidak mendapatkan nama ibu dari sekian informasi tersebut. Ibu memang sempat pingsan dan tidak sadarkan diri pada saat hendak melaksanakan ibadah melempar jumroh di Mina, namun bukan karena tragedi tersebut. Kondisi kesehatan ibu sedang drop.

Alhamdulillah, tidak lebih dari sehari, ibu sudah bisa pulang ke tenda. Namun, tidak sampai sehari juga, ibu harus kembali dibawa harus lagi ke rumah sakit. Atas rekomendasi petugas medis, ibu dianjurkan untuk pulang lebih dulu dari jadwal dan kloter ​yang ​ seharusnya. Maka, Kamis pagi hari waktu jeddah, ibu ​di​terbang​kan dari Jeddah menuju Indonesia. Informasi yang kami dapatkan, Ibu akan landing sekitar pukul 22.30, dan setelah urusan administrasi, langsung pulang karena ada petugas Depag dan Pemda yang menjemput ibu. Diperkirakan sekitar pukul 03.00 Jumat dini hari, ibu sudah tiba di rumah.

Kamis siang, aku dan istri serta anak-anak berangkat dari Jakarta. Syukur kalo bisa menyambut ibu di Solo. Saat dalam perjalanan itulah, kabar duka kami terima. Bulek kami telah dipanggil oleh Sang Gusti. ​Beliau adalah anak ke-3 dari nenek kami. Sedangkan ibu adalah anak ke-2 dari 8 bersaudari. ​Sepanjang malam dalam perjalanan itu pun, aku berkejaran dengan waktu. Dan aku kalah..!!

Adzan kumandang subuh terdengar dari Masjid Agung seiring ​aku tiba di depan rumah. Inilah kekhawatiran dan ketakutan yang ​ku​bangun sendiri, ketika melihat rumah dalam keadaan gelap, seolah rumah kosong tak berpenghuni. Tak ada seorang pun yang ​terlihat di dalam sana. Tak ada orang berkerumun layaknya para penyambut kepulangan tamu Allah yang mengharap doa dan berkah. Bapak memang ​sedang tidak di rumah​ karena ada hajat saudara di Surabaya​​. Rencananya, Hari Jumat pagi atau siang baru tiba kembali di rumah, lalu hari Sabtu malam akan menjemput ibu di Embarkasi Solo. Ya, kepulangan ibu jika sesuai dengan kloter yang sudah dijadwalkan memang baru tiba Ahad pagi lusa.

​”Nggih, ibu ten lebet,” suara dari dalam sana via telp​on genggamku​ terasa melegakan. Selang tak lama, Pak To dan Pak As keluar, membukakan pintu. ​Dua lelaki ​yang sudah berusia senja itulah yang dimintai tolong oleh bapak untuk menjaga rumah selama beliau pergi ke Surabaya.

​Ibu tengah berbaring di tempat tidur. ​Peluk cium haru mengiringi rasa syukurku melihat kondisi ibu yang sudah membaik. Setelah sejenak melepas haru, Ibu berdiri dan beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Aku segera berdiri dan berniat menjadi penyangga, karena ibu harus berjalan rambatan (berjalan dengan berpegangan pada meja atau dinding karena merasa tak kuat untuk berdiri) menuju ke kamar mandi. “Mboten usah digandheng, mundhak tuman“. Aku hanya berdiri terpaku, menatap ibu seiring dengan mata yang terasa berkaca-kaca.

Di siang hari, beberapa kerabat dekat satu persatu mulai berdatangan setelah mendengar berita ibu sudah tiba di rumah. Dari cerita ibu, “L​eres bu, saestu niki termasuk mu’jizatipun Gusti. Dados keajaibanipun umur​,“​ Ibu menirukan kata-kata yang diucapkan “anak” ibu di tanah suci saat mendampingi ​beliau ​selama masa kritis itu.

​​​Ketika sore menjelang maghrib, kakak tiba di rumah. Lalu malamnya, bapak juga tiba di rumah. Dari cerita bapak, “Mohon maaf, Pak. Kondisi ibu sudah koma. Hanya warna putih di mata ibu ketika diajak berkomunikasi“. Bapak menirukan kesaksian kakak ​kami ​yang sedang berstatus sebagai petugas haji yang juga bisa mendampingi ibu di masa kritis itu.

Oleh-oleh cerita dari ibu masih seputar apa yang ibu rasakan selama masa-masa kritis itu. Tentang, “Mungkin niki amargo roso gumedhene ibu naliko kuwi. Najan howone panas, insya Allah kuat. Wong jaman poso sing hawane luwih panas ae kuat kok. Opo maneh saiki, sing sakwayah-wayah iso ngombe lan mesti nggowo zamzam raketang rong botol,” begitulah ibu bercerita.

Kami mendengar sembari mencoba untuk belajar hikmah tentang seberapa daya yang dimiliki oleh seorang manusia​ sebagai makhluk-Nya​. Aku sendiri hanya bisa berusaha menyembunyikan haru. ​ Karena lagi-lagi, kekhawatiran dan ketakutan mulai terbangun dalam diri seiring ketika, “Ibu nggih pun ​niat. Nek ​sido ​mulih dino ​A​had, mudhun ko pesawat langsung ajeng ngetan, ​ajeng ​tumut mendhaki bule lan 40-e mbah. Koper lan gawan liyane yo mbuh, mboten kepikiran maleh.” Tak kuasa basah mata ini dan kilu bibir ini. Ada gemuruh yang harus tetap terjaga agar “kaleh tigang dintene Bulek Dloh, bu” tetap hanya dalam batin saja yang berbicara.

“Iki ​Abi arep tilik ibu, sak iki posisi lagi tekan Ngawi,” bapak memecah kebisu​anku ketika mendengar azam ibu​.

​Ada raut bahagia tersirat dalam wajah teduh ibu saat mendengar berita itu. ​Abi, adalah sebutan kami untuk suami dari bulek kami, adik ibu yang ketiga. Abi dan bulek inilah yang bersama ibu melaksanakan ibadah umroh selama sebulan penuh di bulan Ramadhan yang lalu, yang kemudian tidak lebih dari 2 bulan berjalan, Ibu musti kembali ke Tanah suci untuk melaksanakan ibadah hajinya. Lalu, malam terus merambat dan tubuh-tubuh kami pun merajuk untuk beristirahat sejenak.

Di malam hari, saat jam perkiraan Abi datang, rombongan belum datang.​ ​Aku hanya bisa memastikan, apakah abi sudah tiba atau belum dengan beberapa kali terjaga dari tidur dan melongok lewat jendela. Dan aku tersentak, ketika melihat ibu tidur berbaring di kursi tamu. Subhanallah, lagi-lagi ​aku harus berusaha menahan isak dan linangan air mata. Untuk berjalan ke kamar mandi yang ada di depan tempat tidur saja, ibu harus rambatan (berjalan sambil berpegangan tembok atau meja), namun kini​, dengan keikhlas​annya, ibu​ menyiapkan dirinya untuk ​menyambut ​kedatangan ​sang ​adik.

Adzan Subuh sudah bersenandung, Abi juga tak kunjung ​tampak. Selepas jamaah subuh turun (selesai) dari Masjid Agung, Abi ​baru ​tiba di rumah. “Jam setunggil wau dugi. Parkire radi mrono, wed​i​ ngganggu istirahate ibumu. Iki mau melok subuhan ndek mesjid​, terus nembe mrene…​,” begitu abi bercerita.

Suasana haru biru ketika ibu dan bulek saling melepas rindu. Suasana hening dan senyap untuk sesaat. Hanya isak dan beberapa sesenggukan yang mewakili perbincangan di pagi selepas subuh itu. Dan lagi, untuk kesekian kalinya kekhawatiran itu terbangun juga​; Bagaimana akan melewatinya ketika ibu harus mendengar berita ​tentang ​adiknya yang pertama telah menemui mbah putri?

Untuk sesaat kami bercengkerama melepas rindu. Lalu ibu masuk ke dalam untuk menunaikan sholat subuh. Di saat tanpa keberadaan ibu itulah, bapak, abi dan bulek​ seperti ​mengatur strategi untuk bagaimana menyampaikan kabar duka tentang meninggalnya bulek kami.

“Bagaimanapun juga, mbakyu harus dikasih tahu?”
“Kulo mboten sanggup kalo ​mesti memberitahu”.
“Gus, njenengan sebagai suami yang seharusnya menyampaikannya langsung”.
“Tapi harus memastikan kesehatannya dulu. Sementara dokter petugasnya saja baru besok tiba di tanah air”.
“Tidak usah diberitahu sekarang. Tapi, ajak saja ke sana dan nanti akan tahu setelah di sana”.

Selanjutnya, ​aku  melihat raut wajah ibu yang sumringah. Abi dan bulek bercerita tentang keluarga di Jombang dengan tutur kata yang ​terlihat ​sangat ​ber​hati-hati. Jika sudah mengerucut pada kondisi kesehatan adik ibu yang pertama, bapak, abi dan ​juga ​bule​k​ ​segera ​mengalihknnya pada cerita ​lain. Tentang ritual-ritual dalam ibadah haji​ dan ujian yang harus dijalani.​ Tentang seberapa mudah teori-teori saat ngaji tentang haji. Atau seberapa gampag saat memberikan nasehat tentang sabar dan tawakal kepada Sang Gusti. Atau seberapa sederhana ​ketika membicarakan tentang ​sikap ​yang seharusnya diambil ​saat mendapat cobaan dan ujian dari Sang Kuasa. Tentang mudahnya memberikan gambaran kepada orang lain atas adanya rahasia dan hikmah yang bisa dipelajari dari setiap peristiwa, entah disukai atau tidak. Tentang ​pasrah untuk berserah, dan juga tentang ketabahan untuk keikhlasan atas segala urusan kepada Sang Pemilik K​ehidupan.

Di tengah perbincangan itulah, tiba-tiba bapak menyela​, “Bu, iki aku arep matur. Ibu sing ikhlas lan ​tabah. Dipenggalih atine. Kabeh iki wes diatur lan mugo-mugo awak dhewe iso belajar hikmahe.” Dalam sepersekian menit, tak lebih dari hitungan jari, bapak berhenti sejenak. Suasana hening dan senyap. Tak kudengar ada desah nafas di ruang tamu di pagi itu. Meski aku yakin, ada gemuruh dan gejolak yang nyaris tak terbendung di dalam diri kami masing-masing. “Dik Dloh tilar dunyo malam jumat wingi.

Dengan segala daya, aku saksikan wajah ibu ketika bapak menyelesaikan kata-kata terakhirnya.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,” Aku melihat bibir ibu bergerak, dan sesaat bergetar. Saat itulah, kurasakan ketakutan dan kekhawatiran yang entah sengaja atau tidak telah kami bangun dalam diri kami, mendadak roboh. Luluh lantak dengan cahaya ketabahan dan keikhlasan yang ibu lukiskan dalam raut wajahnya yang teduh. Ya, aku menyaksikannya. Itu bukan raut wajah yang kalah. Bukan pula raut wajah yang terperanjat lalu lepas. Yang kusaksikan adalah wajah kesejatian seorang makhluk yang fana kepada Sang Khaliq yang Baqa. Wajah dengan totalitas dalam pasrah dan berserah kepada Pemilik Kehidupan. Wajah yang kupahatkan kepadanya kesaksian “setabah-tabah perempuan dan seikhlas-ikhlas hamba, aku menyaksikannya dalam diri ibuku…”

Temanggung, 11.10.2015