Dari Tanah Kembali ke Tanah

15 January 2017
Dari tanah kembali ke tanah
Tempat berdiri, ke mana pun bisa berlari
Tempat berpijak, bagaimana pun cara bergerak

Dari dalam rahim kedalamanmu
Melahirkan alam yang tinggi menjulang
Menimang sumber kehidupan untuk mengalir
Memanggul cakrawala yang terbentang
Menopang segala peristiwa

Dari tanah kembali ke tanah
Berani memberi, berani menerima
Bertanggungjawab atas sebab akibat
Membuka ruang, menutup sekat

Dari tanah kembali ke tanah
Tunggu aku dalam ramah

Bogor, 15.01.2017


JIKA, KAN…?

16 December 2016
jika kau tidak menyukaiku
lalu aku menjadi tidak suka kepadamu
karena ketidaksukaanmu padaku
lalu aku dan kamu saling tidak suka
jadi, apa bedanya aku denganmu

jika kau menghina keyakinanku
lalu aku juga menghina keyakinanmu
karena penghinaanmu atas keyakinanku
lalu aku dan kamu saling hina atas nama keyakinan
jadi, apa bedanya keyakinanmu dengan keyakinanku

jika kau menyerangku
lalu aku juga berbalik menyerangmu
karena seranganmu atasku
lalu aku dan kamu saling serang
jadi, apa bedanya aku denganmu

duhai kau yang menjadi saudaraku
duhai diriku yang menjadi saudaramu
bukankah lebih indah jika begitu

lebih bahagia, kan
jika kau tidak menyukaiku
kubalas dengan menerimamu
jika aku tidak menyukaimu
kau balas dengan menerimaku
lalu kita saling menerima

lebih indah, kan
jika kau menghinaku
kupeluk kau dengan hatiku
jika aku menghinamu
kau peluk aku dengan hatimu
lalu kita saling berpelukan

lebih damai, kan
jika kau menyerangku
kusambut kau dengan cintaku
jika aku menyerangmu
kau sambut aku dengan cintamu
lalu kita saling mencinta

duhai kau yang menjadi bagian dariku
duhai diriku yang menjadi bagian darimu
bukankah lebih indah jika begitu


ketika

27 September 2016
ketika kau ragukan ibadahku, apakah kau sdg butuh untuk dipercaya atas perbuatan yang kau lakukan?

bagaimana jika sebaliknya? semoga tidak. karena selain yg kau percaya, belum tentu ragu

ketika kau bicarakan kekuranganku, apakah kau sedang ingin memamerkan kelebihanmu kepadaku?

bagaimana jika sebaliknya? semoga tidak. karena selain yg kau anggap lebih, belum tentu kurang

ketika kau hinakan amaliahku, apakah kau sedang memuliakan doa-doa yang kau pamerkan kepadaku?

bagaimana jika sebaliknya? semoga tidak. karena selain yg kau anggap mulia, belum tentu hina

ketika kau salahkan sikapku, apakah kau sdg butuh kesaksian dariku tentang kebenaran tingkah lakumu?

bagaimana jika sebaliknya? semoga tidak. karena selain yg kau anggap benar, belum tentu salah

ketika kau sesatkan jalanku, apakah kau sedang ingin menunjukkan kepadaku tentang jalan lurus?

bagaimana jika sebaliknya? semoga tidak. karena selain jalan lurus yg kau tunjukkan, belum tentu sesat

ketika kau ingkari keimananku, apakah kau sedang memaksaku untuk mengamini keyakinanmu?

bagaimana kalau sebaliknya? semoga tidak. karena selain yang kau yakini, belum tentu ingkar


28 Mei 2016, 05:30 WIB

29 May 2016
terimakasih cinta
separuh kehidupan dan setengah kematian
telah mengabarkan
bahwa cinta dan kasih sayang
tak hanya untaian syairsyair cinta
yang meronakan wajah para pecinta
erang yang berujung lengking panjang
keluh dengan berbasuh peluh
jerit menderit saat terikat sakit
adalah pahatan cinta tanpa fatamorgana
untuk mengawali kehidupan dalam mengukir kasih sayang

terimakasih sayang
pelajaran cinta yang telah diajarkan
bukan tentang hitungan berapa atau yang kesekian kali
tak lagi terungkap dari para pujangga cinta
karena rumus infinity yang tak terhingga itu
beriring dengan rasa agar tetap bernyanyi dalam hening
berpegang pada belaian mesra sang kekasih agar tetap melenggang
berhias kesetiaan untuk meramu cahaya dan bias
sebagai bekal ketika kehidupan harus tetap diseimbangkan
agar kesejatian bisa terpancar dari cinta dan kasih sayang kepada sesama

terimakasih cinta
terimakasih sayang
tawa itu telah mengembang pesona
tangis itu pun telah berbuah bahagia


Sudah Ada Tahun Baru Lagi, Saudaraku…

8 January 2016
Saudaraku,
Sudah ada tahun baru lagi
Sudah ada 12 bulan yang kita lewatkan
Sudah ada 52 minggu yang berlalu
Sudah ada 365 hari yang kita lampaui
Lalu apa yang kita dapati hari ini?
   
Saudaraku,
Telah banyak waktu kita habiskan
Yang hanya tergadai oleh semunya kenikmatan
Bahkan hanya sekali itu saja yang kita dapatkan
Hingga kita lupakan akhirat dan keabadian
   
Terlalu banyak kita gunakan kata-kata demi kesejatian
Namun akhirnya, justru kita tebarkan kemunafikan
Sudah berjibun kali kita atasnamakan keikhlasan
Tapi itu menjadi kamuflase atas segala ketidakpedulian
   
Saudaraku,
Sesungguhnya kita bisa lebih paham
Mana yang terang dan mana yang kelam
Biarlah yang lain bisa kita jadikan inspirasi atau mungkin ilham
Untuk mengasah dan mempertajam
Bukan hanya kita simpan dan pendam
Tapi, apa yang sekarang kita dapatkan dan kita genggam?
   
Sejenak mari becermin, saudaraku
Tentang segala niat yang entah mampu kita ujudkan atau hanya menjadi kehendak semu
Tentang kata dan ucap yang terungkap atau menjadi hiasan patung bisu
Tentang segala periaku yang telah menjelma menjadi kebiasaan atau sekadar wajah palsu

Jika nilai-nilai terus kita gerus dengan keberpihakan pada untung dan rugi
Jika semangat senantiasa kita hias dengan hitung-hitungan nominal dan material
Jika perbedaan selalu kita pupuk dengan sentimen kepentingan pribadi dan golongan
Jika kemanusiaan sengaja kita eja dengan bahasa yang tak lazim bagi umat manusia
Maka, apa yang hari ini bisa kita ceritakan kepada ibunda pertiwi ini?
Bukankah ia sudah menjadi tanah air dan tumpah darah
Sejak nenek moyang kita menghirup udara dari cakrawalanya
Sejak para leluhur kita makan dari hasil buminya
Sejak para orang tua kita minum dari sumber airnya
   
Saudaraku,
Belum cukupkah kita coreng muka kita sendiri
Ketika rasa kedengkian selalu tak berkesudahan
Ketika klaim kebenaran dibangun dengan dasar suka atau tidak suka
Ketika kehendak dijepit dalam ketiak pemaksaan
Ketika pembodohan dihidangkan di menu utama semua media

Saudaraku,
Hari ini sudah ada tahun baru lagi
Jadi, apa yang sudah kita dapati hari ini?
Mari becermin pada diri kita sendiri
Masihkah ada akal sehat yang mampu mengontrol diri?
Masihkah ada hati nurani yang mampu memawas diri?

Semoga,
Masih ada kemanusiaan dalam diri manusia yang tengah becermin dan mencoba untuk melihat
“Apa yang sudah kita dapatkan hari ini?”

Hari ini, sudah ada tahun baru lagi
Saudaraku

Depok, Januari 2016


16:40

29 November 2011

ia melaju…


surga kita

29 November 2011

-1
surga mana yang kau tawarkan
sementara sujudku tergadai
pada jeda dan rasa ingin
karena tak tahu apa itu surga

rasa membunuh waktu
melupakan makna
pada cita tertinggi
sedang hati
mati tanpa menikmati

pintu terkuak
lebar menghadang angin malam
membasahi bumi
berpijak pada rindu

semakin malam bergelantung
tak ada kata meramu
sunyi membiarkan terbang tinggi
karena hujan semalam
memainkan irama yang tertinggal

bersama decak di pelataran
ketika awan menampung cerutu
sahutan gelap menerpa cahaya
tentang kehidupan
yang harus tetap dikobarkan

-2
yang terjadi adalah
surga menjamu sederet kafilah
untuk singgah, entah sejenak
atau selamanya
dan tak berakhir di ujung penantian

makin panjang jalan berbayang
namun tetap memberi kata
agar tak lekang mencari
surga mana yang kau tawarkan

-3
akan kau bangun sebuah surga untukmu, sayang
jika hatimu bertaut di hatimu. bukan yang lain
bertabur rasa tak terperi
bersama bidadari di relungmu

-4
cahaya itu akan berpendar
mencari suara-suara di kesunyian
ketika kau kuasa menyapa apa dan siapa
dalam ranah bernama kehidupan
lalu jubah sahaja meramu pematang hati

tanpa keinginan di bibir pantai
atau semenanjung tak terkira
lenyap. bersama riak gelombang manusia
yang kau sapa di tengah kerumunan
ketika senyum menyiangi wajah. tersungging

hendakkah kau berkata, “surga mana yang kau tawarkan?”

Jakarta-Bogor, awal Mei 2008