ketika

27 September 2016
ketika kau ragukan ibadahku, apakah kau sdg butuh untuk dipercaya atas perbuatan yang kau lakukan?

bagaimana jika sebaliknya? semoga tidak. karena selain yg kau percaya, belum tentu ragu

ketika kau bicarakan kekuranganku, apakah kau sedang ingin memamerkan kelebihanmu kepadaku?

bagaimana jika sebaliknya? semoga tidak. karena selain yg kau anggap lebih, belum tentu kurang

ketika kau hinakan amaliahku, apakah kau sedang memuliakan doa-doa yang kau pamerkan kepadaku?

bagaimana jika sebaliknya? semoga tidak. karena selain yg kau anggap mulia, belum tentu hina

ketika kau salahkan sikapku, apakah kau sdg butuh kesaksian dariku tentang kebenaran tingkah lakumu?

bagaimana jika sebaliknya? semoga tidak. karena selain yg kau anggap benar, belum tentu salah

ketika kau sesatkan jalanku, apakah kau sedang ingin menunjukkan kepadaku tentang jalan lurus?

bagaimana jika sebaliknya? semoga tidak. karena selain jalan lurus yg kau tunjukkan, belum tentu sesat

ketika kau ingkari keimananku, apakah kau sedang memaksaku untuk mengamini keyakinanmu?

bagaimana kalau sebaliknya? semoga tidak. karena selain yang kau yakini, belum tentu ingkar

Advertisements

Nglencer IdulFitri 1437 H

14 July 2016
1) Oleh2 #nglencer #IdulFitri1437H ini, sowan ke PakLik. “Saya ini dulu ikut Mbah Syansuri jadi tukang pijete dan tukang cuci2nya”

2) Stlh menikah & tinggal d dkt mertua, setiap kali sowan k Mbah Syansuri, beliau hny ngendikan ” seh poso le…” itu brlngsg slm 5 th lbih #IdulFitri1437H

3) Dli rentang 5 th itu, sy pernah ‘ngglidhik’ setiap jm 9-10 mlm k dpur rumah mertua. Brngkali ada mknan sisa yg bs sy bw plg utk mkn dg istri d rmah #IdulFitri1437H

3) Stlh bbrp saat brlalu, suatu mlm sy mnemukan makanan yg sdh siap tersaji di dapur, seolah mertua tahu ke’ngglidhik’an sy dan sengaja menyiapkannya. #IdulFitri1437H

4) Hal itu terulang bbrp mlm. ternyata mertua memang tahu dan segaja menyiapkanny untuk kami. maka sejak saat itu pun saya tidak ngglidhik lagi, meski mertua msh sj selalu menyiapkan mknan setiap malam. #IdulFitri1437H

5) Sampai suatu saat mertua dtg k rmh dan melihat klo tak ada yg bisa kami masak. Mertua bilang; dalam rumah tangga ada 2 yang ga boleh habis, beras dan garam.
#IdulFitri1437H

6) lalu d suatu hari ketika sy sdg sowan k Mbah Syansuri, beliau dawuh, “Le, sptny enak ya klo da lontong” sy pun kluar & mmbelikanny utk beliau #IdulFitri1437H

7) Stlh dhahar lontong, Mbah Syansuri kmbali dawuh. “Sptny enak juga klo da buah2an yg seger2 itu lho, Le”. Sy pun kmbli kluar & mmbeli smngka&melon utk beliau #IdulFitri1437H

8) Slsai sowan, sy pulang. setiba d rmah sy joget2 dg senang. Istri sy heran. sy hny blg ke dia,” Mbah Syansuri dah ga puasa” #IdulFitri1437H

9) Tak lama berselang hari, sy d mnta utk mnggantikan seorang dosen yg mngundurkan diri utk mngajar d sbuah PT d jkt.  #IdulFitri1437H

10) Golek2 dalan wes dilakoni. banjur nemu dalan, tinggal lewati ngnti apal. ananging kudu ttp mlaku ng dalan kang pener #IdulFitri1437H

11) ibarat sarapan, mkn siang & mlm, minum teh, kopi, dan jg mrokok. bisa jd obat ketika itu dilakukan dg benar. #IdulFitri1437H

12) Oleh2 lain dpt dr besan ibu (mertua adik) di Bintaro. Beliau brcerita bnyk ttg kehidupan bliau semasa nyantri di pesantren Krapyak & Mangkuyudan. #IdulFitri1437H

13) Saya dl d Krapyak d kmr E-9. #GusDur d E-7. Selepas dr Krapyak, Kiai Ali mngirim sy & 8 tmn santri lainny k Solo, kuliah d UNU. #IdulFitri1437H

14) Kota Solo itu kota kecil tapi ramai. Bnyk kiai-kiai alim sholeh d sana. Setidakny, ada 29 kiai di daerah Mangkuyudan, Laweyan dan Honggowongso. Blm daerah2 lainny #IdulFitri1437H

15) Kiai yg paling kaya itu Kiai Shafawi. Kiai khosny adlh Kiai Sirodj. Kiai yg intelektual itu Kiai Adnan. Kiai thoriqoh adlh Kiai Ma’ruf. #IdulFitri1437H

16) Di Mangkuyudan sndiri, Kiai yg paling dikenal di masyarakat  itu ada 3; Kiai Umar, Kiai Daris, dan Kiai Ashfari. #IdulFitri1437H

17) Kiai Umar itu kiai yang sangat alim sholeh, tawadhu, loman & resikan, serta wajahnya putih bercahaya. #IdulFitri1437H

 18) Kiai Daris, kalau mjd imam sholat seringkali menangis ketika membaca ayat-ayat Quran. Dan Kiai Ashfari, kiai yang pinter dan sangat cerdas #IdulFitri1437H

19) karena UNU dkt pesantren Mangkuyudan, kami ingin kuliah, sekaligus nyantri ke Kiai Umar, santrinya Mbah Munawwir  Krapyak #IdulFitri1437H

20) Tp Kiai Ali justru “menging” kami utk tdk tinggal d pesantrenny Kiai Umar Mangkuyudan. Sbg santri, knp kami justru di”penging” utk tdk nyantri lagi?” #IdulFitri1437H

21) “Al Muayyad (pada saat) itu  (masih berupa) pesantren kecil. Kalau kalian tnggal d pondok, kalian yg santri krapyak ini akan dianggap pinter. Kalian akan jadi spt katak dlm tempurung”, dawuh Kiai Ali. #IdulFitri1437H

22) Lalu, Kiai Ali sempat mencarikan kontrakan utk kami bersembilan. Bahkan beliau jg yg bayar uang kontrakan tsb. #IdulFitri1437H

23) Di UNU, sy smpt aktif d kegiatan2 kampus. Ketika kmpus mngadakan satu kegiatan, seorg dosen mmberi nasehat utk mnjadikan para kiai pesantren sbg donatur. #IdulFitri1437H

24) Yg sy heran smpai skg itu; Lha para kiai inikan hny mngjar para santri d pesantren, kok ya bisa mmberi donasi yg jmlahny tdk sdikit? trmsuk Kiai Umar ini. #IdulFitri1437H


28 Mei 2016, 05:30 WIB

29 May 2016
terimakasih cinta
separuh kehidupan dan setengah kematian
telah mengabarkan
bahwa cinta dan kasih sayang
tak hanya untaian syairsyair cinta
yang meronakan wajah para pecinta
erang yang berujung lengking panjang
keluh dengan berbasuh peluh
jerit menderit saat terikat sakit
adalah pahatan cinta tanpa fatamorgana
untuk mengawali kehidupan dalam mengukir kasih sayang

terimakasih sayang
pelajaran cinta yang telah diajarkan
bukan tentang hitungan berapa atau yang kesekian kali
tak lagi terungkap dari para pujangga cinta
karena rumus infinity yang tak terhingga itu
beriring dengan rasa agar tetap bernyanyi dalam hening
berpegang pada belaian mesra sang kekasih agar tetap melenggang
berhias kesetiaan untuk meramu cahaya dan bias
sebagai bekal ketika kehidupan harus tetap diseimbangkan
agar kesejatian bisa terpancar dari cinta dan kasih sayang kepada sesama

terimakasih cinta
terimakasih sayang
tawa itu telah mengembang pesona
tangis itu pun telah berbuah bahagia


karena cinta ini

25 May 2016
karena cinta ini tak kunjung padam
jangan kau redam dalam sekam
hangatkan dengan tembang di terik siang dan nyanyian di ujung malam
untuk mengeja barisan namanama menyingkap temaram
agar terpahat, menguak rahasia terdalam

usah kau bimbangkan cinta
dalam tingkah yang merambah getir
karena cinta ini tak akan lekang

asuh cintamu selembut fajar
membentang, senyum bertebar

karena cinta ini tak kunjung layu
semailah benihbenih berlanggam syahdu
agar dapat kau rasa di setiap waktu
di antara belantara fatamorgana yang menyulut takut dan ragu
melajulah, dalam kesejatian laku

jamulah cinta yang kau tunggu
karena cinta takkan kenal lelah
menadah doadoa para pecinta yang saling bersahut

majulah bersama para ksatria piningit
atas nama cinta, lampaui langit

karena cinta ini takkan pernah usai


Bapak, Aku Bangga menjadi Anakmu…

9 April 2016
Bapakku adalah seorang NU tulen
Beliau adalah alumni Tebuireng, Jombang
Pernah aktif di IPNU dan Anshor Kediri
Lalu menjadi anggota dewan juga dari Partai NU

Saat tinggal di kota Jogjakarta
Beliau berguru pada para kiai di PP Al Munawwir Krapyak
Kedekatan beliau dengan keluarga Krapyak
Aku saksikan dalam beberapa kitab dan kamus (Al Munawwir & Al’ Ashr) yang dihadiahkan kepada beliau, langsung dari muallifnya.

Aku mengenal ziarah makam, karena beliau sering mengajak anak-anaknya ziarah
Selain ke makam kakek-nenek kami, juga rutin ke Makam nDongkelan

Di sebuah tempat yang baru saja ditempati, beliau bersama-sama teman semasanya, pernah pula merintis sebuah masjid yang menjadi salah satu pusat kegiatan NU
Di masjid inilah, aku mengenal yasinan & tahlilan di setiap malam Jum’at
Alhamdulillah, masjid itu makin ramai dan makin megah hingga saat ini, bahkan menjadi kantor NU.
Kala menjadi dosen pun, beliau adalah pembina organisasi PMII.
Sampai suatu masa, beliau pernah juga menjadi pengurus syuriah NU tingkat propinsi.

Aku dan lima saudaraku dikenalkannya dengan pesantren-pesantren berbasis NU;
PP Al Munawwir Krapyak, Al Muayyad Mangkuyudan, Sunan Pandan Aran Candi, Nurul Ummah Kotagede, Darul Falah Cukir, Nailul-Ula Ploso Kuning, dan Nailus Salam Krakitan
Di pondok-pondok inilah, aku dan kelima saudaraku melanjutkan studi, setelah kami sempat mengenyam pendidikan tingkat sekolah dasar di SD Muhammadiyah.

Ya, bapakku adalah seorang NU tulen.

#kangenbapak


Sudah Ada Tahun Baru Lagi, Saudaraku…

8 January 2016
Saudaraku,
Sudah ada tahun baru lagi
Sudah ada 12 bulan yang kita lewatkan
Sudah ada 52 minggu yang berlalu
Sudah ada 365 hari yang kita lampaui
Lalu apa yang kita dapati hari ini?
   
Saudaraku,
Telah banyak waktu kita habiskan
Yang hanya tergadai oleh semunya kenikmatan
Bahkan hanya sekali itu saja yang kita dapatkan
Hingga kita lupakan akhirat dan keabadian
   
Terlalu banyak kita gunakan kata-kata demi kesejatian
Namun akhirnya, justru kita tebarkan kemunafikan
Sudah berjibun kali kita atasnamakan keikhlasan
Tapi itu menjadi kamuflase atas segala ketidakpedulian
   
Saudaraku,
Sesungguhnya kita bisa lebih paham
Mana yang terang dan mana yang kelam
Biarlah yang lain bisa kita jadikan inspirasi atau mungkin ilham
Untuk mengasah dan mempertajam
Bukan hanya kita simpan dan pendam
Tapi, apa yang sekarang kita dapatkan dan kita genggam?
   
Sejenak mari becermin, saudaraku
Tentang segala niat yang entah mampu kita ujudkan atau hanya menjadi kehendak semu
Tentang kata dan ucap yang terungkap atau menjadi hiasan patung bisu
Tentang segala periaku yang telah menjelma menjadi kebiasaan atau sekadar wajah palsu

Jika nilai-nilai terus kita gerus dengan keberpihakan pada untung dan rugi
Jika semangat senantiasa kita hias dengan hitung-hitungan nominal dan material
Jika perbedaan selalu kita pupuk dengan sentimen kepentingan pribadi dan golongan
Jika kemanusiaan sengaja kita eja dengan bahasa yang tak lazim bagi umat manusia
Maka, apa yang hari ini bisa kita ceritakan kepada ibunda pertiwi ini?
Bukankah ia sudah menjadi tanah air dan tumpah darah
Sejak nenek moyang kita menghirup udara dari cakrawalanya
Sejak para leluhur kita makan dari hasil buminya
Sejak para orang tua kita minum dari sumber airnya
   
Saudaraku,
Belum cukupkah kita coreng muka kita sendiri
Ketika rasa kedengkian selalu tak berkesudahan
Ketika klaim kebenaran dibangun dengan dasar suka atau tidak suka
Ketika kehendak dijepit dalam ketiak pemaksaan
Ketika pembodohan dihidangkan di menu utama semua media

Saudaraku,
Hari ini sudah ada tahun baru lagi
Jadi, apa yang sudah kita dapati hari ini?
Mari becermin pada diri kita sendiri
Masihkah ada akal sehat yang mampu mengontrol diri?
Masihkah ada hati nurani yang mampu memawas diri?

Semoga,
Masih ada kemanusiaan dalam diri manusia yang tengah becermin dan mencoba untuk melihat
“Apa yang sudah kita dapatkan hari ini?”

Hari ini, sudah ada tahun baru lagi
Saudaraku

Depok, Januari 2016


Hari Santri dan Ayo Mondok

3 December 2015
Kamis, 27 Juni 2015 yang bertepatan dengan 11 Ramadhan 1436 Alumni Ma’had Al Muayyad (KAMAL) Jabodetabek menggelar Haul Syaikh KHA. Umar Abdul Manan bertempat di PP Fatahillah Ciketing Bekasi. Tepat 36 tahun -dalam kalender hijriyah- yang lalu, beliau wafat meninggalkan sebuah institusi pendidikan bernama Pondok Pesantren Al Muayyad di Mangkuyudan Surakarta. Di sinilah para santri yang datang dari berbagai penjuru di Bumi Nusantara ini ngangsu kaweruh. Kemudian, setelah beberapa waktu berlalu, sebagian dari mereka akan ​ada yang ​pulang kembali ke kampung halaman masing-masing. Sebagian yang lain tetap tinggal di pondok untuk mengabdi​ atau ada juga yang melanjutkan jenjang pendidikan ke kota lain.

Selama proses nyantri inilah yang kemudian mampu melahirkan rasa saling memiliki di antara santri satu dengan santri yang lain. Bagaimana tidak, karena para santri ini terbiasa untuk beraktifitas secara bersama-sama di satu tempat yang sama, serta dalam sekian rentang waktu yang sama pula. Mulai dari aktifitas antri mandi selepas bangun di pagi hari, lalu sholat subuh berjamaah dan dilanjut dengan mengaji kepada para guru dan kiai. Begitu juga ketika menikmati sarapan pagi dari menu-menu yang tersaji di sebuah nampan yang kemudian disantap secara bersama pula. Atau ketika bersama-sama mengenyam pendidikan formal dan non-formal sepanjang hari, kemudian dilanjut dengan rutinitas berjamaah di malam hari selepas maghrib dan isya’, semacam ​tahlilan, ​nariyahan, manaqiban, barzanji, dan lain sebagainya. Maka, selepas para santri ini pergi meninggalkan almamaternya –secara fisik–, di manapun mereka berada akan senantiasa terikat dengan almamaternya.

Begitu pula dengan alumni Al Muayyad yang tersebar ke berbagai belahan Bumi Nusantara ini, termasuk yang berdomisili di wilayah Jabodetabek. Dalam beberapa tahun terakhir ini, Haflah Haul KHA Umar Abd Manan pun menjadi salah satu aktifitas rutin tahunan yang sedang dicoba untuk dijaga ke-istiqomahan-nya. Telebih lagi, ketika berulang kali membaca;
           Wasiate Kyai Umar maring kita,
           Mumpung sela ana dunya dha mempengo,
           Mempeng ngaji ilmu nafi’ sangu mati,
           Aja isin aja rikuh kudu ngaji. 
Penggalan wasiat ini telah menjadi salah satu motivator bagi para alumni untuk tetap dan terus akan belajar seperti halnya yang telah mereka lalui ketika menjadi santri. Dan dalam beberapa waktu terakhir ini, penulis membahasakan wasiat tersebut dengan istilah Gerakan Nasional Ayo Mondok-nya RMI-NU.

Di sisi lain, Gerakan Nasional Ayo Mondok ini pun se​makin mengukuhkan bahwa almamater dan alumni ​adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan antara satu dengan yang lain. Keduanya menjadi sebuah fase kehidupan yang mesti dilalui. Keduanya juga menjadi sejarah dan realita kekinian yang harus dihadapi dengan segala dinamikanya.

Proses nyantri selama di pesantren almamaternya ini pada hakikatnya bisa disebut sebagai sebuah gambaran kehidupan tentang bagaimana seorang santri mampu menjadi manusia seutuhnya. Kehidupan santri ketika mondok di almamater pesantrennya bisa juga disebut sebagai rahim kehidupan. Karena selama proses ngangsu kawruh di almamaternya inilah, para santri akan mendapatkan bekal berupa pondasi dan ideologi tentang “kehidupan sesungguhnya”. Sebagai miniatur kehidupan, almamater menjadi subyek utama dalam proses membentuk dan menanamkan bekal tersebut bagi para santrinya. Dengan kata lain, pondok pesantren inilah yang mampu menjadi mesin-mesin produksi dan menghasilkan para alumninya memiliki pondasi dan ideologi –khususnya ideologi keagamaan– yang kokoh, yang memang dipersiapkan untuk menyambut fase kehidupan selanjutnya. Maka, tantangan yang dihadapi oleh almamater dan para santrinya ini adalah sudah seberapa kuat dan siapkah proses pembekalan dari almamater kepada para santri tersebut?

Sedangkan dalam konteks alumni, maka kehidupan yang tengah dihadapinya adalah realita sosial yang bisa juga disebut sebagai laboratorium kehidupan. Artinya, dalam laboratorium ini, para alumni dituntut untuk bisa mengejawantahkan serta menerapkan makna atas pondasi dan ideologi yang telah didapat selama mereka nyantri di almamaternya. Realita sosial ini tentu saja akan lebih memiliki kompleksitas yang barangkali belum pernah didapatkan selama mereka menjadi santri. Meskipun begitu, apapun nama sebuah bangunan, tentu akan sangat dipengaruhi oleh pondasinya. Sehingga, peran para alumni pun akan menjadi subyek utama untuk kembali bernegosiasi tentang bangunan apa yang akan dikembangkan dari pondasi dan ideologi yang sudah ada. Oleh karena itu, tantangan yang kini dihadapi oleh para alumni pesantren adalah seberapa kuat dan kokoh untuk tetap berpijak pada pondasi dan ideologi yang telah mereka dapatkan selama masa-masa nyantri di almamaternya?

Menyaksikan realita baru dengan segala proses dinamika serta perubahan yang serba pragmatis dan instan ini, maka para alumni ini pun dituntut untuk bisa menjawab tantangan-tantangan yang bukan lagi hanya sekadar mempertahankan pondasi dan ideologi tersebut. Dus, tantangan selanjutnya adalah bangunan seperti apa dan bagaimana yang akan dikembangkan untuk menyikapi perubahan-perubahan tersebut? Di sisi lain, apakah generasi-generasi berikutnya dari almamater yang sama juga memang telah dipersiapkan untuk menghadapi perkembangan dan perubahan zaman tersebut?

Diskusi bersama para alumni KAMAL Jabodetabek sesaat seusai haflah haul tersebut, memberikan refleksi bagi penulis, bahwa konsep manusia seutuhnya adalah ketika ia memiliki pondasi dan ideologi tentang hablum minallah dan hablum minannas. Dan para alumni inilah yang memiliki tanggung jawab dalam proses pengejawantahan ideologi hablum minannas sesuai dengan konteksnya dengan tetap berpijak pada pondasi hablum minallah yang telah didapatkan semasa menjadi santri dan mondok di “kawah condrodimuko” almamaternya. Jadi, Selamat Hari Santri dan Ayo Mondok…

Jakarta, 2015