28 Mei 2016, 05:30 WIB

29 May 2016
terimakasih cinta
separuh kehidupan dan setengah kematian
telah mengabarkan
bahwa cinta dan kasih sayang
tak hanya untaian syairsyair cinta
yang meronakan wajah para pecinta
erang yang berujung lengking panjang
keluh dengan berbasuh peluh
jerit menderit saat terikat sakit
adalah pahatan cinta tanpa fatamorgana
untuk mengawali kehidupan dalam mengukir kasih sayang

terimakasih sayang
pelajaran cinta yang telah diajarkan
bukan tentang hitungan berapa atau yang kesekian kali
tak lagi terungkap dari para pujangga cinta
karena rumus infinity yang tak terhingga itu
beriring dengan rasa agar tetap bernyanyi dalam hening
berpegang pada belaian mesra sang kekasih agar tetap melenggang
berhias kesetiaan untuk meramu cahaya dan bias
sebagai bekal ketika kehidupan harus tetap diseimbangkan
agar kesejatian bisa terpancar dari cinta dan kasih sayang kepada sesama

terimakasih cinta
terimakasih sayang
tawa itu telah mengembang pesona
tangis itu pun telah berbuah bahagia

Advertisements

karena cinta ini

25 May 2016
karena cinta ini tak kunjung padam
jangan kau redam dalam sekam
hangatkan dengan tembang di terik siang dan nyanyian di ujung malam
untuk mengeja barisan namanama menyingkap temaram
agar terpahat, menguak rahasia terdalam

usah kau bimbangkan cinta
dalam tingkah yang merambah getir
karena cinta ini tak akan lekang

asuh cintamu selembut fajar
membentang, senyum bertebar

karena cinta ini tak kunjung layu
semailah benihbenih berlanggam syahdu
agar dapat kau rasa di setiap waktu
di antara belantara fatamorgana yang menyulut takut dan ragu
melajulah, dalam kesejatian laku

jamulah cinta yang kau tunggu
karena cinta takkan kenal lelah
menadah doadoa para pecinta yang saling bersahut

majulah bersama para ksatria piningit
atas nama cinta, lampaui langit

karena cinta ini takkan pernah usai


Bapak, Aku Bangga menjadi Anakmu…

9 April 2016
Bapakku adalah seorang NU tulen
Beliau adalah alumni Tebuireng, Jombang
Pernah aktif di IPNU dan Anshor Kediri
Lalu menjadi anggota dewan juga dari Partai NU

Saat tinggal di kota Jogjakarta
Beliau berguru pada para kiai di PP Al Munawwir Krapyak
Kedekatan beliau dengan keluarga Krapyak
Aku saksikan dalam beberapa kitab dan kamus (Al Munawwir & Al’ Ashr) yang dihadiahkan kepada beliau, langsung dari muallifnya.

Aku mengenal ziarah makam, karena beliau sering mengajak anak-anaknya ziarah
Selain ke makam kakek-nenek kami, juga rutin ke Makam nDongkelan

Di sebuah tempat yang baru saja ditempati, beliau bersama-sama teman semasanya, pernah pula merintis sebuah masjid yang menjadi salah satu pusat kegiatan NU
Di masjid inilah, aku mengenal yasinan & tahlilan di setiap malam Jum’at
Alhamdulillah, masjid itu makin ramai dan makin megah hingga saat ini, bahkan menjadi kantor NU.
Kala menjadi dosen pun, beliau adalah pembina organisasi PMII.
Sampai suatu masa, beliau pernah juga menjadi pengurus syuriah NU tingkat propinsi.

Aku dan lima saudaraku dikenalkannya dengan pesantren-pesantren berbasis NU;
PP Al Munawwir Krapyak, Al Muayyad Mangkuyudan, Sunan Pandan Aran Candi, Nurul Ummah Kotagede, Darul Falah Cukir, Nailul-Ula Ploso Kuning, dan Nailus Salam Krakitan
Di pondok-pondok inilah, aku dan kelima saudaraku melanjutkan studi, setelah kami sempat mengenyam pendidikan tingkat sekolah dasar di SD Muhammadiyah.

Ya, bapakku adalah seorang NU tulen.

#kangenbapak


Sudah Ada Tahun Baru Lagi, Saudaraku…

8 January 2016
Saudaraku,
Sudah ada tahun baru lagi
Sudah ada 12 bulan yang kita lewatkan
Sudah ada 52 minggu yang berlalu
Sudah ada 365 hari yang kita lampaui
Lalu apa yang kita dapati hari ini?
   
Saudaraku,
Telah banyak waktu kita habiskan
Yang hanya tergadai oleh semunya kenikmatan
Bahkan hanya sekali itu saja yang kita dapatkan
Hingga kita lupakan akhirat dan keabadian
   
Terlalu banyak kita gunakan kata-kata demi kesejatian
Namun akhirnya, justru kita tebarkan kemunafikan
Sudah berjibun kali kita atasnamakan keikhlasan
Tapi itu menjadi kamuflase atas segala ketidakpedulian
   
Saudaraku,
Sesungguhnya kita bisa lebih paham
Mana yang terang dan mana yang kelam
Biarlah yang lain bisa kita jadikan inspirasi atau mungkin ilham
Untuk mengasah dan mempertajam
Bukan hanya kita simpan dan pendam
Tapi, apa yang sekarang kita dapatkan dan kita genggam?
   
Sejenak mari becermin, saudaraku
Tentang segala niat yang entah mampu kita ujudkan atau hanya menjadi kehendak semu
Tentang kata dan ucap yang terungkap atau menjadi hiasan patung bisu
Tentang segala periaku yang telah menjelma menjadi kebiasaan atau sekadar wajah palsu

Jika nilai-nilai terus kita gerus dengan keberpihakan pada untung dan rugi
Jika semangat senantiasa kita hias dengan hitung-hitungan nominal dan material
Jika perbedaan selalu kita pupuk dengan sentimen kepentingan pribadi dan golongan
Jika kemanusiaan sengaja kita eja dengan bahasa yang tak lazim bagi umat manusia
Maka, apa yang hari ini bisa kita ceritakan kepada ibunda pertiwi ini?
Bukankah ia sudah menjadi tanah air dan tumpah darah
Sejak nenek moyang kita menghirup udara dari cakrawalanya
Sejak para leluhur kita makan dari hasil buminya
Sejak para orang tua kita minum dari sumber airnya
   
Saudaraku,
Belum cukupkah kita coreng muka kita sendiri
Ketika rasa kedengkian selalu tak berkesudahan
Ketika klaim kebenaran dibangun dengan dasar suka atau tidak suka
Ketika kehendak dijepit dalam ketiak pemaksaan
Ketika pembodohan dihidangkan di menu utama semua media

Saudaraku,
Hari ini sudah ada tahun baru lagi
Jadi, apa yang sudah kita dapati hari ini?
Mari becermin pada diri kita sendiri
Masihkah ada akal sehat yang mampu mengontrol diri?
Masihkah ada hati nurani yang mampu memawas diri?

Semoga,
Masih ada kemanusiaan dalam diri manusia yang tengah becermin dan mencoba untuk melihat
“Apa yang sudah kita dapatkan hari ini?”

Hari ini, sudah ada tahun baru lagi
Saudaraku

Depok, Januari 2016


Hari Santri dan Ayo Mondok

3 December 2015
Kamis, 27 Juni 2015 yang bertepatan dengan 11 Ramadhan 1436 Alumni Ma’had Al Muayyad (KAMAL) Jabodetabek menggelar Haul Syaikh KHA. Umar Abdul Manan bertempat di PP Fatahillah Ciketing Bekasi. Tepat 36 tahun -dalam kalender hijriyah- yang lalu, beliau wafat meninggalkan sebuah institusi pendidikan bernama Pondok Pesantren Al Muayyad di Mangkuyudan Surakarta. Di sinilah para santri yang datang dari berbagai penjuru di Bumi Nusantara ini ngangsu kaweruh. Kemudian, setelah beberapa waktu berlalu, sebagian dari mereka akan ​ada yang ​pulang kembali ke kampung halaman masing-masing. Sebagian yang lain tetap tinggal di pondok untuk mengabdi​ atau ada juga yang melanjutkan jenjang pendidikan ke kota lain.

Selama proses nyantri inilah yang kemudian mampu melahirkan rasa saling memiliki di antara santri satu dengan santri yang lain. Bagaimana tidak, karena para santri ini terbiasa untuk beraktifitas secara bersama-sama di satu tempat yang sama, serta dalam sekian rentang waktu yang sama pula. Mulai dari aktifitas antri mandi selepas bangun di pagi hari, lalu sholat subuh berjamaah dan dilanjut dengan mengaji kepada para guru dan kiai. Begitu juga ketika menikmati sarapan pagi dari menu-menu yang tersaji di sebuah nampan yang kemudian disantap secara bersama pula. Atau ketika bersama-sama mengenyam pendidikan formal dan non-formal sepanjang hari, kemudian dilanjut dengan rutinitas berjamaah di malam hari selepas maghrib dan isya’, semacam ​tahlilan, ​nariyahan, manaqiban, barzanji, dan lain sebagainya. Maka, selepas para santri ini pergi meninggalkan almamaternya –secara fisik–, di manapun mereka berada akan senantiasa terikat dengan almamaternya.

Begitu pula dengan alumni Al Muayyad yang tersebar ke berbagai belahan Bumi Nusantara ini, termasuk yang berdomisili di wilayah Jabodetabek. Dalam beberapa tahun terakhir ini, Haflah Haul KHA Umar Abd Manan pun menjadi salah satu aktifitas rutin tahunan yang sedang dicoba untuk dijaga ke-istiqomahan-nya. Telebih lagi, ketika berulang kali membaca;
           Wasiate Kyai Umar maring kita,
           Mumpung sela ana dunya dha mempengo,
           Mempeng ngaji ilmu nafi’ sangu mati,
           Aja isin aja rikuh kudu ngaji. 
Penggalan wasiat ini telah menjadi salah satu motivator bagi para alumni untuk tetap dan terus akan belajar seperti halnya yang telah mereka lalui ketika menjadi santri. Dan dalam beberapa waktu terakhir ini, penulis membahasakan wasiat tersebut dengan istilah Gerakan Nasional Ayo Mondok-nya RMI-NU.

Di sisi lain, Gerakan Nasional Ayo Mondok ini pun se​makin mengukuhkan bahwa almamater dan alumni ​adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan antara satu dengan yang lain. Keduanya menjadi sebuah fase kehidupan yang mesti dilalui. Keduanya juga menjadi sejarah dan realita kekinian yang harus dihadapi dengan segala dinamikanya.

Proses nyantri selama di pesantren almamaternya ini pada hakikatnya bisa disebut sebagai sebuah gambaran kehidupan tentang bagaimana seorang santri mampu menjadi manusia seutuhnya. Kehidupan santri ketika mondok di almamater pesantrennya bisa juga disebut sebagai rahim kehidupan. Karena selama proses ngangsu kawruh di almamaternya inilah, para santri akan mendapatkan bekal berupa pondasi dan ideologi tentang “kehidupan sesungguhnya”. Sebagai miniatur kehidupan, almamater menjadi subyek utama dalam proses membentuk dan menanamkan bekal tersebut bagi para santrinya. Dengan kata lain, pondok pesantren inilah yang mampu menjadi mesin-mesin produksi dan menghasilkan para alumninya memiliki pondasi dan ideologi –khususnya ideologi keagamaan– yang kokoh, yang memang dipersiapkan untuk menyambut fase kehidupan selanjutnya. Maka, tantangan yang dihadapi oleh almamater dan para santrinya ini adalah sudah seberapa kuat dan siapkah proses pembekalan dari almamater kepada para santri tersebut?

Sedangkan dalam konteks alumni, maka kehidupan yang tengah dihadapinya adalah realita sosial yang bisa juga disebut sebagai laboratorium kehidupan. Artinya, dalam laboratorium ini, para alumni dituntut untuk bisa mengejawantahkan serta menerapkan makna atas pondasi dan ideologi yang telah didapat selama mereka nyantri di almamaternya. Realita sosial ini tentu saja akan lebih memiliki kompleksitas yang barangkali belum pernah didapatkan selama mereka menjadi santri. Meskipun begitu, apapun nama sebuah bangunan, tentu akan sangat dipengaruhi oleh pondasinya. Sehingga, peran para alumni pun akan menjadi subyek utama untuk kembali bernegosiasi tentang bangunan apa yang akan dikembangkan dari pondasi dan ideologi yang sudah ada. Oleh karena itu, tantangan yang kini dihadapi oleh para alumni pesantren adalah seberapa kuat dan kokoh untuk tetap berpijak pada pondasi dan ideologi yang telah mereka dapatkan selama masa-masa nyantri di almamaternya?

Menyaksikan realita baru dengan segala proses dinamika serta perubahan yang serba pragmatis dan instan ini, maka para alumni ini pun dituntut untuk bisa menjawab tantangan-tantangan yang bukan lagi hanya sekadar mempertahankan pondasi dan ideologi tersebut. Dus, tantangan selanjutnya adalah bangunan seperti apa dan bagaimana yang akan dikembangkan untuk menyikapi perubahan-perubahan tersebut? Di sisi lain, apakah generasi-generasi berikutnya dari almamater yang sama juga memang telah dipersiapkan untuk menghadapi perkembangan dan perubahan zaman tersebut?

Diskusi bersama para alumni KAMAL Jabodetabek sesaat seusai haflah haul tersebut, memberikan refleksi bagi penulis, bahwa konsep manusia seutuhnya adalah ketika ia memiliki pondasi dan ideologi tentang hablum minallah dan hablum minannas. Dan para alumni inilah yang memiliki tanggung jawab dalam proses pengejawantahan ideologi hablum minannas sesuai dengan konteksnya dengan tetap berpijak pada pondasi hablum minallah yang telah didapatkan semasa menjadi santri dan mondok di “kawah condrodimuko” almamaternya. Jadi, Selamat Hari Santri dan Ayo Mondok…

Jakarta, 2015


Ikhlas

19 October 2015

​Kamis Kliwon, Jumat Legi, Sabtu Pahing… Mugi tansah pinaringan husnul khatimah…
Allah lebih sayang kpd hambaNya… belum genap 1 tahun bulik no.6, belum cukup 40 hr mbah putri, kini Engkau panggil bulik kami yg no. 3… 
Mohon tambahkan keikhlasan pada kami, ya Allah…
(Status dan komentar di laman facebook adik, 9 Oktober 2015, 08:31)

Kini, aku belajar tentang keikhlasan itu dari beliau. Ujian bertubi yang –semoga menjadi ungkapan dan bentuk atas kasih sayang dan cinta-Nya– kepada beliau, sangat jauh dari kekhawatiran dan ketakutan yang kami bangun dalam kerapuhan dan kelemahan kami.

Di hari Jumat, ibu menjenguk nenek kami yang tengah dirawat di rumah sakit Jombang. Lalu di hari yang sama, pulang ke Temanggung karena hari Ahad sorenya harus berangkat dari Temanggung menuju ke Embarkasi Donohudan Solo, untuk selanjutnya terbang ke Jeddah dan melaksanakan ibadah haji. Tak lebih dari satu minggu, tepatnya di Hari Rabu, ibu mendapatkan kabar duka, nenek kami tercinta meninggal, menghadap ke hadirat Ilahi Robbi.

Kesedihan seperti ini tidak jauh berbeda dengan yang kami rasakan sekitar 9 tahun ang lalu. Saat itu, aku dan istriku berpamitan kepada bapak kami (bapak mertuaku) di awal-awal kami hijrah untuk memulai hidup di kota Jakarta. Dua hari setiba kami di Jakarta, istriku mendapatkan kabar duka, bapak kami tercinta meninggal, menghadap ke hadirat Ilahi Robbi. Jarak Jakarta-Temanggung masih memungkinkan untuk kami tempuh. Kurang dari 24 jam, kami langsung bisa berdoa di depan pusara bapak. Tapi ibu, hanya bisa berdoa dari Tanah suci, dan mesti menunggu sekitar 40 hari lagi untuk bisa berdoa di depan pusara nenek kami tercinta.

Tanggal 9 Dzulhijah pukul 20.30 wib, ketika aku tengah berada di halaman masjid bersama para tetangga dalam rangka persiapan pelaksanaan ibadah qurban untuk esok hari, ibu menelponku. “Mumpung taseh asar teng arafah niki… Ibu ndungo, sampean sak anak bojo ngamini“. Ibu memintaku berkumpul bersama istri dan anak-anakku untuk mengamini doa khotmil quran yang ibu panjatkan di Padang Arafah. Tak kuasa, luluh juga air mata ini ketika beliau mengkhususkan salah satu doanya untuk nenek kami.

Beberapa hari menjelang kepulangan ibu, tepatnya ketika terjadi Tragedi Mina, kami, keluarga di Indonesia mendapat kabar; ibu mendapat ujian dari-Nya dan harus dirawat di rumah sakit Mina. Semua teman, kerabat atau siapapun yang kami rasa punya informasi valid tentang tragedi itu kami kontak. Kami terus mencari update tentang korban tragedi itu. Dan alhamdulillah, kami tidak mendapatkan nama ibu dari sekian informasi tersebut. Ibu memang sempat pingsan dan tidak sadarkan diri pada saat hendak melaksanakan ibadah melempar jumroh di Mina, namun bukan karena tragedi tersebut. Kondisi kesehatan ibu sedang drop.

Alhamdulillah, tidak lebih dari sehari, ibu sudah bisa pulang ke tenda. Namun, tidak sampai sehari juga, ibu harus kembali dibawa harus lagi ke rumah sakit. Atas rekomendasi petugas medis, ibu dianjurkan untuk pulang lebih dulu dari jadwal dan kloter ​yang ​ seharusnya. Maka, Kamis pagi hari waktu jeddah, ibu ​di​terbang​kan dari Jeddah menuju Indonesia. Informasi yang kami dapatkan, Ibu akan landing sekitar pukul 22.30, dan setelah urusan administrasi, langsung pulang karena ada petugas Depag dan Pemda yang menjemput ibu. Diperkirakan sekitar pukul 03.00 Jumat dini hari, ibu sudah tiba di rumah.

Kamis siang, aku dan istri serta anak-anak berangkat dari Jakarta. Syukur kalo bisa menyambut ibu di Solo. Saat dalam perjalanan itulah, kabar duka kami terima. Bulek kami telah dipanggil oleh Sang Gusti. ​Beliau adalah anak ke-3 dari nenek kami. Sedangkan ibu adalah anak ke-2 dari 8 bersaudari. ​Sepanjang malam dalam perjalanan itu pun, aku berkejaran dengan waktu. Dan aku kalah..!!

Adzan kumandang subuh terdengar dari Masjid Agung seiring ​aku tiba di depan rumah. Inilah kekhawatiran dan ketakutan yang ​ku​bangun sendiri, ketika melihat rumah dalam keadaan gelap, seolah rumah kosong tak berpenghuni. Tak ada seorang pun yang ​terlihat di dalam sana. Tak ada orang berkerumun layaknya para penyambut kepulangan tamu Allah yang mengharap doa dan berkah. Bapak memang ​sedang tidak di rumah​ karena ada hajat saudara di Surabaya​​. Rencananya, Hari Jumat pagi atau siang baru tiba kembali di rumah, lalu hari Sabtu malam akan menjemput ibu di Embarkasi Solo. Ya, kepulangan ibu jika sesuai dengan kloter yang sudah dijadwalkan memang baru tiba Ahad pagi lusa.

​”Nggih, ibu ten lebet,” suara dari dalam sana via telp​on genggamku​ terasa melegakan. Selang tak lama, Pak To dan Pak As keluar, membukakan pintu. ​Dua lelaki ​yang sudah berusia senja itulah yang dimintai tolong oleh bapak untuk menjaga rumah selama beliau pergi ke Surabaya.

​Ibu tengah berbaring di tempat tidur. ​Peluk cium haru mengiringi rasa syukurku melihat kondisi ibu yang sudah membaik. Setelah sejenak melepas haru, Ibu berdiri dan beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu. Aku segera berdiri dan berniat menjadi penyangga, karena ibu harus berjalan rambatan (berjalan dengan berpegangan pada meja atau dinding karena merasa tak kuat untuk berdiri) menuju ke kamar mandi. “Mboten usah digandheng, mundhak tuman“. Aku hanya berdiri terpaku, menatap ibu seiring dengan mata yang terasa berkaca-kaca.

Di siang hari, beberapa kerabat dekat satu persatu mulai berdatangan setelah mendengar berita ibu sudah tiba di rumah. Dari cerita ibu, “L​eres bu, saestu niki termasuk mu’jizatipun Gusti. Dados keajaibanipun umur​,“​ Ibu menirukan kata-kata yang diucapkan “anak” ibu di tanah suci saat mendampingi ​beliau ​selama masa kritis itu.

​​​Ketika sore menjelang maghrib, kakak tiba di rumah. Lalu malamnya, bapak juga tiba di rumah. Dari cerita bapak, “Mohon maaf, Pak. Kondisi ibu sudah koma. Hanya warna putih di mata ibu ketika diajak berkomunikasi“. Bapak menirukan kesaksian kakak ​kami ​yang sedang berstatus sebagai petugas haji yang juga bisa mendampingi ibu di masa kritis itu.

Oleh-oleh cerita dari ibu masih seputar apa yang ibu rasakan selama masa-masa kritis itu. Tentang, “Mungkin niki amargo roso gumedhene ibu naliko kuwi. Najan howone panas, insya Allah kuat. Wong jaman poso sing hawane luwih panas ae kuat kok. Opo maneh saiki, sing sakwayah-wayah iso ngombe lan mesti nggowo zamzam raketang rong botol,” begitulah ibu bercerita.

Kami mendengar sembari mencoba untuk belajar hikmah tentang seberapa daya yang dimiliki oleh seorang manusia​ sebagai makhluk-Nya​. Aku sendiri hanya bisa berusaha menyembunyikan haru. ​ Karena lagi-lagi, kekhawatiran dan ketakutan mulai terbangun dalam diri seiring ketika, “Ibu nggih pun ​niat. Nek ​sido ​mulih dino ​A​had, mudhun ko pesawat langsung ajeng ngetan, ​ajeng ​tumut mendhaki bule lan 40-e mbah. Koper lan gawan liyane yo mbuh, mboten kepikiran maleh.” Tak kuasa basah mata ini dan kilu bibir ini. Ada gemuruh yang harus tetap terjaga agar “kaleh tigang dintene Bulek Dloh, bu” tetap hanya dalam batin saja yang berbicara.

“Iki ​Abi arep tilik ibu, sak iki posisi lagi tekan Ngawi,” bapak memecah kebisu​anku ketika mendengar azam ibu​.

​Ada raut bahagia tersirat dalam wajah teduh ibu saat mendengar berita itu. ​Abi, adalah sebutan kami untuk suami dari bulek kami, adik ibu yang ketiga. Abi dan bulek inilah yang bersama ibu melaksanakan ibadah umroh selama sebulan penuh di bulan Ramadhan yang lalu, yang kemudian tidak lebih dari 2 bulan berjalan, Ibu musti kembali ke Tanah suci untuk melaksanakan ibadah hajinya. Lalu, malam terus merambat dan tubuh-tubuh kami pun merajuk untuk beristirahat sejenak.

Di malam hari, saat jam perkiraan Abi datang, rombongan belum datang.​ ​Aku hanya bisa memastikan, apakah abi sudah tiba atau belum dengan beberapa kali terjaga dari tidur dan melongok lewat jendela. Dan aku tersentak, ketika melihat ibu tidur berbaring di kursi tamu. Subhanallah, lagi-lagi ​aku harus berusaha menahan isak dan linangan air mata. Untuk berjalan ke kamar mandi yang ada di depan tempat tidur saja, ibu harus rambatan (berjalan sambil berpegangan tembok atau meja), namun kini​, dengan keikhlas​annya, ibu​ menyiapkan dirinya untuk ​menyambut ​kedatangan ​sang ​adik.

Adzan Subuh sudah bersenandung, Abi juga tak kunjung ​tampak. Selepas jamaah subuh turun (selesai) dari Masjid Agung, Abi ​baru ​tiba di rumah. “Jam setunggil wau dugi. Parkire radi mrono, wed​i​ ngganggu istirahate ibumu. Iki mau melok subuhan ndek mesjid​, terus nembe mrene…​,” begitu abi bercerita.

Suasana haru biru ketika ibu dan bulek saling melepas rindu. Suasana hening dan senyap untuk sesaat. Hanya isak dan beberapa sesenggukan yang mewakili perbincangan di pagi selepas subuh itu. Dan lagi, untuk kesekian kalinya kekhawatiran itu terbangun juga​; Bagaimana akan melewatinya ketika ibu harus mendengar berita ​tentang ​adiknya yang pertama telah menemui mbah putri?

Untuk sesaat kami bercengkerama melepas rindu. Lalu ibu masuk ke dalam untuk menunaikan sholat subuh. Di saat tanpa keberadaan ibu itulah, bapak, abi dan bulek​ seperti ​mengatur strategi untuk bagaimana menyampaikan kabar duka tentang meninggalnya bulek kami.

“Bagaimanapun juga, mbakyu harus dikasih tahu?”
“Kulo mboten sanggup kalo ​mesti memberitahu”.
“Gus, njenengan sebagai suami yang seharusnya menyampaikannya langsung”.
“Tapi harus memastikan kesehatannya dulu. Sementara dokter petugasnya saja baru besok tiba di tanah air”.
“Tidak usah diberitahu sekarang. Tapi, ajak saja ke sana dan nanti akan tahu setelah di sana”.

Selanjutnya, ​aku  melihat raut wajah ibu yang sumringah. Abi dan bulek bercerita tentang keluarga di Jombang dengan tutur kata yang ​terlihat ​sangat ​ber​hati-hati. Jika sudah mengerucut pada kondisi kesehatan adik ibu yang pertama, bapak, abi dan ​juga ​bule​k​ ​segera ​mengalihknnya pada cerita ​lain. Tentang ritual-ritual dalam ibadah haji​ dan ujian yang harus dijalani.​ Tentang seberapa mudah teori-teori saat ngaji tentang haji. Atau seberapa gampag saat memberikan nasehat tentang sabar dan tawakal kepada Sang Gusti. Atau seberapa sederhana ​ketika membicarakan tentang ​sikap ​yang seharusnya diambil ​saat mendapat cobaan dan ujian dari Sang Kuasa. Tentang mudahnya memberikan gambaran kepada orang lain atas adanya rahasia dan hikmah yang bisa dipelajari dari setiap peristiwa, entah disukai atau tidak. Tentang ​pasrah untuk berserah, dan juga tentang ketabahan untuk keikhlasan atas segala urusan kepada Sang Pemilik K​ehidupan.

Di tengah perbincangan itulah, tiba-tiba bapak menyela​, “Bu, iki aku arep matur. Ibu sing ikhlas lan ​tabah. Dipenggalih atine. Kabeh iki wes diatur lan mugo-mugo awak dhewe iso belajar hikmahe.” Dalam sepersekian menit, tak lebih dari hitungan jari, bapak berhenti sejenak. Suasana hening dan senyap. Tak kudengar ada desah nafas di ruang tamu di pagi itu. Meski aku yakin, ada gemuruh dan gejolak yang nyaris tak terbendung di dalam diri kami masing-masing. “Dik Dloh tilar dunyo malam jumat wingi.

Dengan segala daya, aku saksikan wajah ibu ketika bapak menyelesaikan kata-kata terakhirnya.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,” Aku melihat bibir ibu bergerak, dan sesaat bergetar. Saat itulah, kurasakan ketakutan dan kekhawatiran yang entah sengaja atau tidak telah kami bangun dalam diri kami, mendadak roboh. Luluh lantak dengan cahaya ketabahan dan keikhlasan yang ibu lukiskan dalam raut wajahnya yang teduh. Ya, aku menyaksikannya. Itu bukan raut wajah yang kalah. Bukan pula raut wajah yang terperanjat lalu lepas. Yang kusaksikan adalah wajah kesejatian seorang makhluk yang fana kepada Sang Khaliq yang Baqa. Wajah dengan totalitas dalam pasrah dan berserah kepada Pemilik Kehidupan. Wajah yang kupahatkan kepadanya kesaksian “setabah-tabah perempuan dan seikhlas-ikhlas hamba, aku menyaksikannya dalam diri ibuku…”

Temanggung, 11.10.2015


SAJAK KU PADA MU

26 August 2015
sajak ku
menyentuh mu
meraba dalam iba
mendesah
di ujung mu
sajak ku
terikat
mencari
sebaris kata
dalam mata yang tersita
hilang dalam cinta
sajak ku
mengunjungi mu
menjemput asa
di suara mu
yang menderu
yang memburu
seperti batu
sajak ku
terbingkai dan diam
amiin
dalam doa berbias
amiin
dalam tatap berias

Jogja-Jombang, 01-02