SOWAN LEBARAN 1438 H

1 July 2017

Silaturahmi Lebaran 1438 H kali ini, bercengkerama dengan kakak dan adik sampai lewat tengah malam. Lupa dengan lelah setelah perjalanan Temanggung-Pati. Lalu siangnya, mengenalkan anak-anak tentang tradisi ziarah ke makam para Waliyullah. Setelah tiga hari yang lalu ziarah ke mBah KH Chudlori Tegalrejo, kini pilihan selanjutnya ke mBah Mutamakin, makam terdekat dari rumah kakak yang di Tayu, Pati. Rencana selanjutnya ke makam Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Tapi, tawaran adik untuk sowan bareng ke Gus Mus, ternyata membuat arah perjalanan pindah haluan. Alhamdulillah, bisa sowan walau sejenak dan ‘ngepasi’ haul satu tahun wafatnya Ibu Nyai Fatma. Selain berkat, dapat doa keberkahan pula dari beliau. Ini juga ingin mengenalkan kepada anak-anak tentang tradisi dunia pesantren dan kyainya. Dua tahun lagi, si anak mbarep ingin menjadi seorang santri. 

Saat sowan ke Gus Mus, ada beberapa anggota Banser yang juga ikutan sowan. 

“Yah, emang mereka bener-bener tentara asli ya?” tanya anakku yang kedua. 

“Mereka itu Banser,” jawabku

“Emang Banser itu apaan?” 

“Banser itu Bantuan Serbaguna. Tentaranya NU. Yang menjaga Indonesia.”

“Emang yang di sini, NU semua ya?”

“Iya.”

“Kalau ayah?”

“Iya lah. Eyang juga. Mbah kakung juga. Pakdhe, budhe, om, tante. Semuanya NU.”

“Kenapa?”

Senyap sejenak. 

“Karena ayah orang Indonesia. Jadi ayah, eyang, mbah jadi makmumnya kyai-kyai.”

“Asa juga NU ah.”

“Siiippp…” sembari kuberikan dua jempol.

“Sekarang, kita foto bareng sama mbahnya tante, yuk.”

Kami pun masuk ke ruang dalam untuk berpose, sekaligus berpamitan dan minta doa pangestunya. 

“Meniko ingkang mbajeng tabarukan asmo dateng panjenengan, Gus.”

Lalu… klik, klik, klik. Dan perjalanan pun berlanjut ke Kota Wali, Kudus dan Demak. 

Temanggung, Demak, Kudus, Pati dan Rembang, Lebaran 1438 H